Seorang penulis dan teoretikus politik, Fajar.
Partai yang identik dengan NU tersebut membaca kenyataan ini dengan sangat jeli: ia hadir dalam ritual, dalam simbol, dan dalam bahasa keagamaan yang akrab. Politik menjadi bagian dari keseharian, bukan sesuatu yang datang lima tahun sekali.
Sementara itu, partai nasionalis terutama mereka yang mewarisi ideoligis nasionalisme Bung Karno sering kali terjebak dalam jarak. Nasionalisme disampaikan dalam bahasa struktural, kadang elitis, dan kurang diterjemahkan ke dalam praktik kebudayaan lokal.
Padahal Bung Karno sendiri menegaskan bahwa nasionalisme Indonesia tidak pernah anti agama: “Aku seorang nasionalis, tetapi aku juga seorang yang ber-Tuhan.”
Pernyataan tersebut menjadi sangat penting karena menunjukkan, bahwa nasionalisme sejati bukanlah penyingkiran iman dari ruang publik, melainkan penyatuan cita-cita kebangsaan dengan nilai kemanusiaan yang hidup di tengah rakyat.
Nasionalisme yang tidak berakar pada kebudayaan lokal akan kehilangan daya pikatnya, terutama di wilayah seperti Kedungkandang, di mana agama bukan sekadar keyakinan pribadi, tapi struktur sosial.
Dari sudut pandang filsafat politik, kondisi ini memperlihatkan bahwa pilihan politik masyarakat Kedungkandang lebih dekat pada apa yang disebut Antonio Gramsci sebagai hegemoni kultural.
Kekuasaan tidak bekerja melalui paksaan, melainkan melalui persetujuan melalui rasa “ini milik kita”. Partai bernuansa NU berhasil membangun hegemoni tersebut, sementara Partai Nasionalis masih berkutat pada dominasi struktural. Padahal Bung Karno telah lama mengingatkan: “Jangan sekali-kali meninggalkan rakyat.”
Sungguh kalimat itu bukan hanya slogan belaka, tetapi peringatan eksistensial. Meninggalkan rakyat bukan hanya soal hadir secara fisik, juga kegagalan partai memahami bahasa batin mereka itulah sebabnya yang harus direbut Partai Nasionalis bukan semata suara, melainkan makna.
Makna nasionalisme yang membumi, yang bisa duduk bersila di teras mushola, yang mampu berdialog dengan tradisi tanpa merasa terancam olehnya.
Sepanjang perjalanan saya melakukan pengamatan di Kecamatan Kedungkandang, akhirnya saya tiba pada sebuah kesimpulan: bahwa Kedungkandang sesungguhnya bukan wilayah yang menolak nasionalisme. Ia hanya menolak nasionalisme yang tidak berbicara dengan bahasanya sendiri. Tidak berbicara dengan bahasa mereka sehari-hari.
Fajar merupakan seorang penulis dan teoretikus politik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




