Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, dalam Mujahadah Mengetuk Pintu Langit untuk Indonesia dan NU di Pondok Pesantren Ash-Shodiqiyah Semarang Jawa Tengah, Kamis (18/12/2025) malam. Foto: M.Mas'ud Adnan/bangsaonline
Yang dimaksud Rais Aamnya ikut, yakni ikut menandatangani pengangkatan Charles Holland Taylor sebagai penasehat khusus Ketua Umum PBNU KH Yahya Staquf bidang internasional.
Kiai Asep juga mengungkap tentang proses berdirinya NU. Menurut Kiai Asep, sebelum NU berdiri para kiai NU mendirikan lembaga pengkaderan, yaitu Nahdlatul Wathan.
“Selama 10 tahun Nahdlatul Wathan ini melakukan pengkaderan,” tutur Kiai Asep yang pada Agustus 2025 lalu mendapat penghargaan Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Kiai Asep, dalam setiap angkatan ada 65 kader yang dilatih, baik dari segi pemikiran dan wawasan maupun keterampilan berorganisasi.
“Pesertanya adalah gus-gus, putra-putra kiai yang tulus-tulus,” kata Kiai Asep sembari mengatakan bahwa seorang gus seharusnya tulus, tidak pragmatis. “Dulu putra kiai tulus-tulus,” tambah Kiai Asep.
Sedang tutornya para kiai yang punya kapasitas dan alim serta punya wawasan luas. “Tutornya Kiai Asnawi Kudus, Kiai Ridwan Semarang,” ujar Kiai Asep menyebut beberapa nama.
Pada tahun terakhir, Nahdlatul Wathan diketuai oleh KH Abdul Wahab Hasbullah, sedangkan sektretarisnya adalah KH Abdul Chalim, ayahanda Kiai Asep.
Karena itu ketika formasi kepemimpin PBNU perdana tersusun - terdiri dari Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar, Kiai Achmad Dahlan Achyad sebagai Wakil Rais Akbar, KH A Wahab Hasbullah sebagai Katib Awal, KH Abdul Chalim sebagai Katib Tsani – Hadratussyaikh menugasi Kiai Wahab dan Kiai Abdul Chalim untuk menusun kepengurusan berikutnya.
“Karena beliau-beliau itulah yang aktif dalam Nahdlatul Wathan,” ujar Kiai Asep sembari mengatakan bahwa nama Nahdlatul Ulama itu diambil dari nama Nahdlatul Wathan dan 65 yang hadir.
“Jadi Nahdlah itu diambil dari Nadhaltul Wathan, sedang Ulama-nya diambilkan dari 65 ulama yang hadir, maka jadilah Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
Kiai Asep mengapresiasi langkah Kiai Shodiq yang menggelar mujahadah bersama.
“Mujahadah ini mewakili keruwetan NU,” tegas Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, pengurus NU tempo dulu adalah para kiai tulus dan Ikhlas.
“Dulu para kiai rebutan untuk menolak jadi pengurus NU,” kata pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu.
KH Muadz Thohir juga sepakat dengan pemikiran Kiai Asep. Kiai Muadz bercerita bahwa dulu KH Abdul Sahal Mahfudz selalu menolak dicalonkan sebagai Rais Aam. “Menurut Kiai Sahal seorang Rais Aam itu harus faqih,” tegasnya.
Padahal Kiai Sahal Mahfudz sendiri dikenal sebagai ulama faqih dan alim ‘allamah. Tapi Kiai Sahal kemudian tak bisa menolak ketika para Muktamirin NU sepakat memilih menjadi Rais ‘Aam Syuriah PBNU di Muktamar ke-30 NU di Lirboyo Kediri pada 1999.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




