Di UIN Jakarta, Kiai Asep Ungkap Kunci Sukses Mengajar: Murid seperti Anak Cari Ikan di Sungai

Di UIN Jakarta, Kiai Asep Ungkap Kunci Sukses Mengajar: Murid seperti Anak Cari Ikan di Sungai Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, dalam acara Seminar Nasional Guru Madrasah Indonesia di Auditorium Harun Nasution Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (16/12/2025). Foto: MMA/bangsaonline.

Seorang guru, tutur Kiai Asep, juga harus mengkondisikan murid-muridnya ke dalam tujuh kunci.

Tujuh kunci itu adalah al-jiddu wal muwazhabah, yaitu berkesungguhan dan ajeg dalam berkesungguhan. Berkesungguhan dan terus berkesungguhan.

Kedua, taqlilul ghidza. Yaitu menyedikitkan makan. Menurut Kiai Asep, murid harus dibiasakan jangan banyak makan. Artinya, makan tidak boleh sampai kekenyangan. Sebab menurut ilmu kedokteran, kenyang itu datang 10 menit setelah makan.

"Kenyang itu menghilangkan kecerdasan," ujar Kiai Asep.

Ketiga, mudawamatul wudlu'. Artinya, murid harus selalu mempunyai wudhu. Begitu juga gurunya, harus punya wudhu.

Menurut Kiai Asep, ilmu itu cahaya. Begitu juga wudlu, juga Cahaya.

“Cahaya kalau bertemu cahaya langsung bersenyawa,” kata Kiai Asep.

Keempat, tarkul ma'aashi. Maksudnya, seorang muri tidak boleh bermaksiat. "Di dalam Al-Quran disebutkan ‘dosa itu membebani dirimu’.

Ketika seorang murid membawa pelajaran dari gurunya, membawa beban dipundaknya, secerdas apapun tidak akan mengerti dengan pelajaran yang dipelajarinya.”

Kelima, qira'atul Quran binazhran, atau membaca Al Quran dengan dilihat Al-Qurannya.

"Ketika kita membaca Al-Quran dengan melihat huruf-hurufnya, kita akan dipaksa untuk berkonsentrasi. Berkonsentrasi itu latihan kecerdasan."

Keenam, melaksanakan shalat malam. Menurut Kiai Asep, shalat malam adalah kendaraan untuk keberhasilan cita-cita.

Ketujuh, tidak boleh jajan di luar atau pasar.

"Jajan di luar di tempat terbuka, banyak orang yang melihatnya, tapi tak semua orang punya uang,” kata Kiai Asep. Ketika orang yang tak punya uang itu menyaksikan dan mereka kepingin, maka keberkahan makanan itu menjadi hilang.

Kiai Asep juga menceritakan pesantren yang ia dirikan. Menurut dia, ia mendirikan pesantren dengan cita-cita besar. Yaitu untuk mencetak ulama besar, pemimpin besar, konglomerat besar dan professional dan bertanggungjawab.

Ia mendirikan Pesantren Amanatul Ummah pada 2006. Menurut dia, dalam jangka waktu 9 tahun Pesantren Amanatul Ummah sudah mendapat banyak penghargaan. Bahkan pada tahun 2025 ini sebanyak 1.269 santri Amanatul Ummah diterima di berbagai perguruan tinggi negeri dan luar negeri.

“Jumlah muridnya berapa. Ya, segitu itu. Jadi 100 persen diterima di perguruan tinggi negeri dan luar negeri,” ujar Kiai Asep. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO