Gubernur Khofifah saat menyapa masyarakat di Lirboyo Bersholawat.

Hal ini sejalan dengan filosofi kerja 'JATIM BISA' yang diusung dalam rangka Hari Jadi ke-80 Jawa Timur, yaitu Berdaya, Inklusif, Sinergis, dan Adaptif. Santri, menurut Khofifah, harus berdaya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, inklusif dalam interaksi sosial, sinergis menjaga ukhuwah antara ulama, umara, dan masyarakat, serta adaptif menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai pesantren.
"Dengan semangat Jatim BISA, pesantren akan menjadi pusat inovasi yang melahirkan pemimpin berintegritas dan berakhlak mulia," ucapnya.
Khofifah juga mengajak seluruh jamaah untuk mendoakan keselamatan bangsa Indonesia, khususnya Jawa Timur, agar senantiasa dalam lindungan Allah SWT, dijauhkan dari bencana, dan terhindar dari perpecahan.
“Marilah kita doakan para ulama, santri, dan pahlawan bangsa yang telah mendahului kita. Semoga mereka mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU membakar semangat ribuan santri dan santriwati yang memenuhi lapangan Ponpes Lirboyo.
“Siap bela Lirboyo, siap bela NU, siap bela Islam, siap bela Indonesia,” pekiknya disambut antusias para santri.
Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz, turut menyampaikan terima kasih atas penyelenggaraan sholawat bersama di Ponpes Lirboyo. Ia berharap momen Hari Santri ke-10 ini menjadi berkah dan mendapat ridho Allah SWT.
“Yang terpenting adalah kita saling menghargai dan mendukung, tidak boleh terpecah-belah,” pesannya.
Turut hadir dalam acara tersebut Pengasuh Ponpes Lirboyo, KH Abdullah Kaffabih Mahrus; Sekdaprov Jatim, Adhy Karyono; jajaran Forkopimda Jatim, jajaran kepala OPD provinsi, serta ribuan jamaah Syekhermania yang juga santri dan santriwati dari Lirboyo dan sekitarnya. (dev/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




