Sumaryanto atau yang lebih dikenal pendengar sebagai Mas Aryan saat menerima penghargaan di usia 62 tahun.
BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Udara pagi masih berembun saat suara hangat dan lantang mengudara dari salah satu stasiun radio lokal di Kota Dzikir dan Sholawat. Suara itu milik Sumaryanto atau yang lebih dikenal pendengar sebagai Mas Aryan.
Di usia 62 tahun, ia tetap setia memegang mikrofon dan selama lebih dari 3 dekade, Mas Aryan mengawal rubrik Morning News setiap Jumat-Minggu, dari pukul 06.00 hingga 10.00 WIB. Energinya tak pernah surut, mengisi empat jam siaran dengan semangat yang konsisten.
BACA JUGA:
- Ketua Komisi II DPRD Bangkalan Apresiasi Progam Bunga Nol Persen untuk UMKM: Harus Tepat Sasaran
- Gelar Pembinaan Aparatur Desa, Pemkab Bangkalan Dorong Peningkatan APBDes
- Ketua Komisi II DPRD Bangkalan Apresiasi Pemkab Lakukan Sidak Pajak Restoran
- Pemkab Bangkalan Gelar Jambore BUMDesa 2026, Strategi Produk Desa Tembus Pasar Modern
“Selama masih bisa bicara, saya ingin tetap mengudara,” ucapnya sembari tersenyum, tangannya lincah memutar tuas konsol mixer yang telah menemaninya lebih dari separuh hidup.
Baginya, usia senja bukan alasan untuk berhenti. Ia menjadi saksi perjalanan Bangkalan dari masa ke masa, mulai dari kepemimpinan Jakfar Syafie hingga Lukman Hakim.
Tak hanya menyampaikan kabar dari pendopo dan kantor OPD, siarannya juga diwarnai musik pop dan rock klasik. Lagu Ebiet G. Ade kerap mengiringi narasi penuh renungan, sementara dentuman band Nazareth membakar pagi dengan semangat.
Usai siaran, Mas Aryan beralih peran sebagai jurnalis media daring. Ia menenteng ponsel dan buku catatan, melakukan wawancara, reportase, hingga menulis naskah berita dengan disiplin tinggi.
“Menulis itu memberi ketenangan. Saya merasa hidup setiap kali bisa membagi informasi,” tuturnya.
Kesehariannya sederhana. Ia gemar nasi campur, namun pantang jeroan dan alergi ikan pindang.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




