Bidik Kemenangan Pilwali Surabaya, PDIP Siapkan 'Prajurit Tempur'

Bidik Kemenangan Pilwali Surabaya, PDIP Siapkan Calon Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat membakar semangat para kader PDIP pada acara pembekalan saksi di Gedung Wanita. foto: maulana/BANGSAONLINE

Untuk itu, mantan Wakil Ketua DPRD Surabaya ini mengingatkan para kadernya untuk mengantongi dulu permasalahan internal. PDIP harus bekerjasama memenangkan Pilwali Surabaya. “ Surabaya harus tetap menjadi barometer politik PDIP secara nasional. Kita harus tetap menjaga tradisi kemenangan di Surabaya. Untuk itu, tinggalkan dulu konflik internal. Saat genderang perang ditabuh, urusan rumah tangga kita tinggalkan, kita bersama-sama maju di medan tempur. Setelah itu, kita selesaikan masalah internal kita,” tegasnya kembali mengingatkan.

Kemenangan di Pemilu 2014 kemarin, masih menurut Whisnu, membuat dirinya makin sadar akan kebersamaan. Kemenangan itu, menjadi semangat kemenangan kita di Pilkada Surabaya. “Merebut kemenangan itu jauh lebih muda dari mempertahankan. Untuk itu, bagi yang ragu-ragu, pulang saja. Tidur di rumah daripada ngriwuk. Dan jangan dimusuhi. Kalau kita menang, mereka akan kita undang, karena kemenangan ini bukan milik saya dan Bu Risma, tapi milik kita bersama. Milik warga Surabaya, kita akan berikan kemenangan itu untuk warga Surabaya,” sambungnya.

Tak kalah seru, Calon Wali Kota Risma juga turut membakar semangat para kader PDIP ini. Dengan meneriakkan yel-yel khas PDIP, Risma membuka pidato sambutannya. “Merdeka, merdeka, merdeka, Mega, Mega, Mega, PDI Perjuangan, Risma-Whisnu,” teriak Risma disambut riuh sorai para kader PDIP yang hadir.

“Surabaya, saat ini sudah dikenal dunia. Surabaya sudah masuk dalam peta dunia. Untuk itu, kita harus menjaga kota kita ini dengan baik. Di sektor pendidikan juga kita jaga dengan baik. Bahkan, sekolah-sekolah di Surabaya kita gratiskan. Silakan cek, di kota lain tidak seperti di kota kita. Makanya, pendidikan di Kota Surabaya jangan sampai diambil alih provinsi. Lawan kita jelas siapa (Rasiyo-Lucy Kurniasari),” kata alumnus SMA Negeri 5 Surabaya ini.

Nah, lanjut Risma, jangan sampai apa yang sudah kita perjuangkan ini kemudian rusak, hanya karena uang Rp 200.000, Rp 500.000 dan sebagainya. “Itu yang rugi nanti panjenengan semua. Yang rugi warga Surabaya sendiri. Hanya karena uang, lima tahun ke depan Surabaya akan rusak. Seprti lagu mars PDI Perjuangan, yang selalu kita nyanyikan. Kita sudah sepakat memberantas kemiskinan. Yang perlu kita lakukan adalah komitmen kita bersama untuk membangun Surabaya lebih baik ke depan,” ajak Risma.

Risma juga menceritakan, selama lima tahun memimpin Kota Surabaya, dia selalu tegas. Birokrat nakal dia sikat, pejabat membandel dia tendang, bahkan politisi tak berhatipun dia habisi. Maka tak heran jika ada anggapan, si Singa Betina ini dinilai kalangan pejabat buruk dalam hal komunikasi. Sebab, Risma tak kenal kompromi bagi siapapun yang ingin merusak masa depan Kota Surabaya.

Saking ‘kejam’nya Risma saat memimpin, Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri pun sempat menyebutnya preman. “Dulu waktu saya ketemu Bu Mega, Bu Mega bilang: Mbak, mbak, sampeyan itu perempuan kok seperti preman. Sambil tertawa saya bilang: Ya biar saja toh bu, asal demi warga Surabaya,” ucapnya. (lan/sta)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO