Prof Usep Abdul Matin, MA (Leiden), MA (Duke), Ph.D, saat menyampaikan progres KH Muhammad Yusuf Hasyim dan KH Abbas Abdul Jalil sebagai calon pahlawan nasional dalam buka bersama puasa 1 Muharram 1447 H di kediaman Ning Imah, salah seorang putri Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, di kawasan PP Amantul Ummah Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Jumat (27/5/2025). Foto: MMA/bangsaonline
Sebelumnya Prof Usep mengusulkan agar KH Muhammad Yusuf Hasyim dijadikan nama jalan. Menurut guru besar sejarah dan peradaban Islam Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta itu, titik-titik atau jejak perjuangan KH Muhammad Yusuf Hasyim yang perlu dijadikan nama jalan, antara lain, Cukir, Kesamben, Sumber Agung (Peterongan), yang semuanya kawasan Jombang.
Kemudian Perning, Krian an beberapa daerah untuk Sidoarjo. Lalu beberapa tempat lagi di Mojokerto dan daerah lainnya.
Yang menarik, Prof Usep menemukan data bahwa Bung Tomo adalah muhibbin atau pecinta Hadratussyaikh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari.
“Bung Tomo sering datang ke Pesantren Tebuireng bersama Jenderal Soedirman,” kata Prof Usep.
Menurut Prof Usep, pemikiran Bung Tomo banyak dipengaruhi pemikiran Hadratussyaikh dalam menyikapi situasi tanah air. Bahkan, menurut Prof Usep, Bung Tomo berbeda pandangan dengan Bung Karno, Bung Hatta dan Amir Syarifuddin.
“Bung Tomo yang sudah terpengaruh Hadratussyaikh memilih perang terbuka atau perang fisik. Sedangkan Bung Karno, Bung Hatta dan Amir Syarifuddin memilih jalur diplomatik,” kata Prof Usep mengutip Majalah Tempo.
Bahkan, menurut Prof Usep, Bung Tomo mengabaikan larangan Amir Syarifuddin selaku menteri penerangan yang tidak memperbolehkan Bung Tomo siaran membakar semangat masyarakat. Bung Tomo memilih keluar dari perkumpulan radio. Ia lalu mendirikan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI).
Sikap Bung Tomo semakin bulat ketika ia dipanggil ke Jakarta untuk menemui Bung Karno, Bung Hatta dan Amir Syarifuddin. Menurut Prof Usep, saat di Jakarta Bung Tomo menyaksikan bendera Belanda berkibar di markas-markas Jepang. Ini semakin menyinggung rasa nasionalisme Bung Tomo.
“Kok tidak kayak di Surabaya,” kata Bung Tomo seperti dikutip Prof Usep.
Di Surabaya bendera Belanda tak boleh berkibar. Bahkan bendera Belanda yang berkibar di atas hotel Oranye di Jalan Tunjungan Surabaya dirobek warna birunya sehingga tinggal warna merah putih.
“Akhirnya Bung Tomo menyampaikan kepada Bung Karno bahwa ia akan menempuh perang terbuka atau fisik.” Kata Prof Usep.
Pada 6 November 1945, Bung Tomo yang sudah siap dengan 3.000 massa siap mati kembali sowan ke Hadratussyaikh di Pesantren Tebuireng Jombang. Ia tanya kepada Hadratussyaikh kapan kita akan menyerang tentara sekutu atau penjajah.
Menurut Prof Usep, Hadratussyaikh minta Bung Tomo menunggu kedatangan seorang kiai dari Buntet Cirebon. Kiai itu adalah Kiai Abbas Abdul Jamil.
“Pada tanggal 10 November 1945 Kiai Abbas dan kontingennya tiba di Pesantren Tebuireng dan memutuskan tanggal 10 November 1945 sebagai hari H penyerangan terhadap Inggris/AFNEI/NICA,” kata Prof Usep yang bersama timnya berbulan-bulan mengumpulkan data sekaligus menulis profil Kiai Abbas Abdul Jamil.
“Sabtu menjelang fajar, 10 November 1945, Kiai Abbas Abdul Jamil, para kiai dan santri, berangkat dari Pesantren Tebuireng Jombang, ke Surabaya dengan (naik) kereta api Expres untuk melawan penjajah, sambil menyerukan tiga kali “Merdeka”. Perang terjadi selama 10 hari, mulai 10 November hingga 20 November 1945,” tambah Prof Usep.
Acara buka bersama itu dihadiri KH Muhammad Riza Yusuf (Gus Riza), putra KH Muhammad Yusuf Hasyim, KH Yazid Karimullah, pengasuh Pondok Pesantren Dzul Qornain Jember, Prof Dr Imam Ghazali Said, pengasuh Pesantren Mahasiswa An Nur Surabaya, dan Dr KH Muchlis Muhsin, pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Modung Bangkalan.
Juga Prof Dr Zainuddin Maliki, anggota LHKP Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Fachruddin, DPW PAN Jatim, KH Nasir Sampang, Dr KH Ahmad Sujak, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur, Dr KH Ahmad Jazuli, Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, dan para kiai lainnya.
Acara itu diakhiri doa bersama yang dipimpin para kiai secara bergantian, antara lain: Prof Dr Imam Ghazali Said, Dr KH Ahmad Sujak, Prof Usep Abdul Matin, KH Nasir, KH Muchlis Muhsin, dan Kiai Asep sendiri. (MMA)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




