Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, saat membaca berita HARIAN BANGSA dalam acara Haflah Akhirus Sanah Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Pondok Pesantren Amnatul Ummah Pacet Mojokerto, Sabtu (21/5/2025). Foto: bangsaonline
Pantauan BANGSAONLINE, visi misi Amanatul Ummah yang diciptakan sendiri oleh Kiai Asep itu merupakan perpaduan antara agama Islam dan nasionalisme. Kiai Asep sendiri memang dikenal sebagai ulama sangat religius dan nasionalis.
"Yaitu terwujudnya manusia yang unggul, utuh, dan berakhlakul karimah untuk kemuliaan dan kejayaan Islam dan kaum muslimin, kemuliaan dan kejayaan seluruh bangsa Indonesia, serta untuk terwujudnya cita-cita kemerdekaan, yaitu kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh bangsa Indonesia," tegas kiai yang kini sedang memperjuangkan KH Muhammad Yusuf Hasyim Pesantren Teburieng dan KH Abbas Abdul Jamil Buntet Cirebon sebagai pahlawan nasional.
Kiai Asep juga menegaskan tentang the goal of graduate Amanatul Ummah. Pertama, untuk menjadi ulama besar yang akan bisa menerangi dunia dan Indonesia.
”Kedua, untuk menjadi para pemimpin dunia dan pemimpin bangsa Indonesa yang akan mengupayakan terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan,” kata Kiai Asep.
Ketiga, untuk menjadi konglomerat besar yang akan memberikan kontribusi maksimal bagi terwujudnya kesejahteraan bangsa Indonesia.
“Keempat, untuk menjadi para professional yang berkualitas dan bertanggung jawab,” ujar ulama yang sering melakukan kunjungan ke berbagai perguruan tinggi di luar negeri itu.
Kiai Asep berharap para santrinya bisa menjadi salah satu dari the goal of graduate tersebut.
“Ambil salah satu, atau dua atau tiga atau empat-empatnya,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep juga mempersilakan para santrinya aktif di organisasi mahasiswa ketika kuliah di perguruan tinggi. Baik di PMII atau HMI. Yang penting jangan teledor sampai gak shalat.
“Jadi buang fitnahnya, jangan sampai teledor gak shalat,” pesan kiai yang dikenal sebagai motivator ulung itu.
Kiai Asep mengaku semula melarang santrinya kuliah di Eropa dan Amerika atau negara-negara sekeluar karena khawatir makanannya terkontaminasi . Tapi kemudian mengizinkan dengan catatan masak sendiri yang halal.
“Dan shalatnya harus 50 rakaat,” tegas kiai yang selalu aktif menyerap informasi itu.
Acara Haflah Akhirus Sanah MBI itu berlangsung hingga maghrib.
Habis maghrib Kiai Asep mengajak BANGSAONLINE ke acara Tasyakur Ihtitam SMA BP, MTs BP, dan SMP BP. Acaranya digelar di lapangan Amanatul Ummah.
Dalam acara perpisahan sekolah yang muridnya menghafal Al Quran itu Kiai Asep kembali membacakan berita HARIAN BANGSA yang menulis 1.237 santri Amanatu Ummah lolos perguruan tinggi negeri dan luar negeri. Para hadirin langsung bertepuk tangan.
Menurut Kiai Asep, para santri yang sekolah di SMA dan MTs serta SMP BP punya keistimewaan. Yaitu hafalannya kuat.
“Likulli syaiin maziyah, setiap sesuatu memiliki keistimewaan,” katanya.
Menurut Kiai Asep, yang hafal Al Quran 30 juz sebanyak 82 santri dari SMA dan 38 anak dari SMP atau Mts.
“Jadi, yang hafal Al Quran 30 juz sebanyak 120 tahun ini ,” kata guru besar sosiologi UIN Sunan Amep Surabaya itu.
Menurut Kiai Asep, anak-anak yang hafal Al Quran bisa memberi syafaat kepada orang tuanya. Kiai Asep bahkan berharap dirinya dan isteri tercintanya, Nyai Hajjah Alif Fadhilah, bisa mendapat syafaat dari anak dan santrinya yang hafal Al Quran.
Kiai Asep juga mengungkapkan bahwa khusus santrinya yang diterma di Universitas Al Azhar Mesir tak perlu khawatir kekurangan makan. “Istri saya sudah membeli rumah di Mesir. Kalau anak-anak lapar bisa datang ke rumah saya. Di sana sudah disiapkan makanan,” kata Kiai Asep.
Acara Tasyakur Ihtitam ini berakhir pada larut malam. Kiai Asep pamit lebih dulu kepada para undangan untuk meninggalkan acara karena memulai aktivitas sejak pukul 3 pagi. Meski demikian Kiai Asep tak langsung istirahat karena di kediamannya sudah banyak tamu menunggu. Dan tamu terus berdatangan. (MMA)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




