Ilustrasi. Foto: Ist
BANGSAONLINE.com - Hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur, tengah mengalami fenomena penurunan suhu udara atau yang dikenal dengan istilah bediding.
Kondisi tersebut diprediksi berlangsung hingga menjelang puncak musim kemarau pada bulan Juli hingga Agustus, bahkan berpotensi berlanjut hingga September.
BACA JUGA:
- BREAKING NEWS! Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Malang, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
- Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan, BPBD Jember Minta Warga Hemat Air hingga Waspada Karhutla
- Prakiraan Cuaca Jember Hari ini Senin, 11 Mei 2026: Suhu 23-31°C, Kecepatan Angin 6.3 m/s.
- Prakiraan Cuaca Banyuwangi Hari ini Senin, 11 Mei 2026: Suhu 24-30°C, Kecepatan Angin 10.5 m/s.
BMKG melalui laman resminya yang dikutip pada Minggu (22/6/2025), menjelaskan bahwa turunnya suhu udara disebabkan oleh perubahan pola angin musiman.
Angin Monsun Australia yang berhembus menuju Benua Asia melintasi wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia membawa massa udara kering dengan suhu permukaan laut yang relatif rendah.
Angin ini memiliki karakteristik kering serta minim kandungan uap air, terutama pada malam hari saat suhu mencapai titik terendah.
Kondisi itu menyebabkan suhu udara di wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan khatulistiwa, seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, terasa lebih dingin dari biasanya.
Selain dampak dari Monsun Australia, BMKG juga mencatat bahwa fenomena dingin ini dipengaruhi oleh posisi geografis, kondisi topografis, ketinggian wilayah, dan kelembaban udara yang cenderung rendah.
Di sisi lain, selama bulan Juni hingga Agustus, sudut datang sinar matahari berada pada posisi terjauh dari Indonesia, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa.
Cuaca cerah pun diperkirakan mendominasi sebagian besar wilayah di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan.
Angin dari arah timur hingga tenggara membawa udara dingin dari daratan Australia ke Indonesia, yang menghambat pembentukan awan hujan.
Dampaknya, langit tampak lebih cerah sepanjang hari, sementara pada malam hari kurangnya tutupan awan mengakibatkan radiasi panas dari permukaan bumi mengalir langsung ke atmosfer tanpa hambatan.
Hal ini menyebabkan penurunan suhu secara signifikan. Ditambah lagi, angin yang tenang pada malam hari memperlambat pencampuran udara, sehingga udara dingin terperangkap di permukaan bumi. (rom)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




