Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Ya memang begitu kesepakatan ahli bahasa arab, wong arab dan anda yang non-arab harus tunduk. Lha gak ikut punya bahasa kok cerewet, kok ngatur. Perhatikan Alqur’an bicara terkait hal itu pada surah Al-Syams: “wa al-syams wa DhulaHA”, pakai dlamir “HA” (mu’annats). “wa al-QAMAR idza TALA ha”. Tala- yatlu, mengiring-iringi, mneyertai.
Tala adalah fi’il madly berbentuk mudzakkar dipakai untuk menggandengi kata “qamar”. Maka, berarti kata “qamar” adalah mudzakkar. Andai kata “qamar” sebagai mu’annats, maka fi’ilnya pasti “TALAT” . ..”idza talatha” dan bukan “ idza talaha”.
Lalu kembali ke ayat berikutnya tetap pada surah al-syams, yang bertutur tentang bumi (al-ardl). “wa al-ardl wa thahaHA”. HA, dhalir yang kembali ke al-ardl, berbentuk Mu’annats lagi. Sekali lagi, sejatinya al-Nadlr ibn al-Harits sangat tahu itu, tapi dasar kafir, maka ngomongnya tidak lagi ilmu, melainkan nafsu.
Makanya jangan bertindak dengan nafsu, dikuatirkan aroma “kafir” menyelinap masuk di pemikiran anda.
Lebih spesifik lagi, ayat kaji pertama (8) lebih bertutur pada penginkaran mereka terhadap hari kebangkitan, “Yaum al-Ba’ts” kelak. Ayat kaji kedua (9) lebih mengungkap soal pengingkaran mereka terhadap risalah, diutusnya Muhammad SAW sebagai rasul. Semua pengingkaran tersebut sama sekali tidak didasari dengan tiga hal, yakni:
Pertama, ilmu (bighair ‘ilm). Kedua, petunjuk (wa La huda), dan ketiga, kitab suci (wa La kitab munir). Kita coba breakdown satu per satu. Pertama, Ilmu itu cahaya penerang, pemandu berpikir jernih, menggiring penggunanya ke sikap obyektif dan jujur. Maka, sifat ilmu itu lintas, tak pandang apakah sang pengguna beriman atau tidak.
Misalnya terhadap konsep Tuhan: mana yang obyektif, konsep Tuhan itu satu dengan sifat yang serba Maha Sempurna, atau berjumlah tiga, termasuk di antara mereka ada unsur makhluk (dicipta), lahir belakangan setelah peradaban manusia berjalan ribuan tahun. Biarkan ilmu bekerja sendiri tanpa interversi dalam bentuk apapun. Pasti akan menemukan jawaban yang mutlak benar. Itulah “Reason”.
Kedua, Huda, petunjuk, getar hati, sinyal yang ada dalam sanubari itulah yang bekerja, yang membisikkan. Tidak dimengerti dasar akediknya apa. Ya tidak tahu, pokoknya suara hati saya begini. Meskipun dia tidak memiliki ilmu, tetapi kepekaan “rasa” benar-benar reflektif. Inilah yang mampu menggambarkan masa depan atau efek dari sebuah pilihan.
Seperti yang kita kenal dalam agama, yaitu shalt istikharah ketika seseorang bimbang dalam menentukan sikap atau keputusan. Lalu, oleh Rasulullah SAW dianjurkan agar shalat istikharah, memohon bantuan kepada Tuhan agar dipilhkan yang terbaik. Dan pilihan Tuhan pastilah yang terbaik.
Hasil pembacaan hati nurani setelah melaui proses kejernihan dan obyektif, inilah yang lazim disebut “conscience”. Semakin shalih seseorang, semakin tajam daya “rasa”nya. Tentu saja, bagi yang sudah mantap, yakin, ya tidak perlu istikharah. Cukup berdoa saja, memohon yang terbaik.
Ketiga, “kitab munir”, kitab suci yang mencerahkan. Ini lebih pada referensi agama atau penuturan wahyu, suara langit tentang obyek yang sedang dihadapi. Yang ketiga ini bisa dikata sebagai terlengkap dibanding yang pertama dan yang kedua.
Di samping meteri dan isi pesannya dipahami secara sungguhan, sesuai kaidah pemahanan yang umum, disikapi secara jujur dan obyektif, hati sang pengkaji juga bersih dan jernih, beriman dan yakin betul akan kebenaran refesnsi yang dipakai. Inilah yang disebut sebagai “guide”.
Terhadap persoalan bumi, guide ilahiah memonitornya dari langit sehingga obyeknya terlihat semua secara detail. Karena itu, mendownload situs langit untuk dijadian panduan dalam bersikap adalah keniscayaan bagi orang beriman. ”Semakin jernih hati seseorang, akan semakin jelas sinyal ilahi yang ditangkap”.
Karena tiadanya tiga hal tersebut, maka sikap mereka kepada Rasulullah SAW adalah berpaling, menghina dan mengingkari, “Tsaniya ‘ithfih liyudlila ‘an sabilih..”. Kata “ Tsaniya” bukan dari tsani yang berarti dua, melainkan dari fiil “tsana” yang berarti “Lawwa”, berpaling.
“ithfih” adalah istilah dari sebuah “sisi”, bagian sebelah. Di mana ideom ini sangat terkenal sekali dalam tradisi arab, untuk mambahasakan orang yang congkak, angkuh, berpaling, dan menghina. Kayak orang yang sedang “melentos” (Jawa), membuang muka dan menudukkan kepala, memejamkan mata ketika berpapasan dengan orang yang dibenci.
Sikap begini ini atau yang sejenis ini, senada dengan ini diungkap di dalam al-qur’an dengan berbagai bahasa dengan arti yang serupa. Tercatat ada sekitar tujuh belasan tesis mengunggah hal tersebut. Begitu tutur al-imam al-Qurthubi. (Al-Jami’ : XII/p.15). Lalu, sikap mereka itu kelak akan menuai balasan sesuai tindakan. Dan Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya Sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




