Tim dari kebun dhoho saat melakukan droping air. Foto: Muji Harjita/BANGSAONLINE
Kepala DLH Kabupaten Kediri, Putut Agung Subekti menyatakan pihaknya telah melakukan pengambilan sampel air dan tanah di 12 titik lokasi.
Tujuh titik di antaranya berada di sumur milik warga yang dilaporkan tercemar, sementara sisanya berada di luar lokasi terdampak sebagai pembanding.
“Sampel kami ambil dari titik-titik yang diduga tercemar dan yang tidak tercemar, sebagai bahan komparasi. Semua sampel diuji di laboratorium yang sudah terakreditasi, sehingga hasilnya dipastikan valid,” jelas Putut.
Selain air, lanjut Putut, Tim DLH juga mengambil sampel tanah dari sekitar area pembuangan limbah milik salah satu pabrik gula (PG) di wilayah tersebut.
Kandungan yang diuji antara lain zat berbahaya seperti besi (Fe), mangan (Mn), dan parameter pencemaran lainnya sesuai dengan baku mutu lingkungan.
Meski sumber pencemaran belum dapat dipastikan, menurut Putut, pihak pabrik gula menunjukkan itikad baik dengan bersedia menyediakan droping air bersih bagi warga terdampak.
“Walau hasil laboratorium belum keluar, pihak perkebunan sudah siap menyalurkan air bersih. Sementara itu, kami dari Pemkab juga telah berkoordinasi untuk menjadwalkan droping air bersih secepatnya,” tambahnya.
Putut menegaskan, pihaknya masih menunggu hasil pengujian laboratorium untuk memastikan zat pencemar dan sumbernya.
DLH berkomitmen untuk transparan dalam penanganan kasus ini serta mengutamakan keselamatan dan kesehatan masyarakat. (uji/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




