Ilustrasi
“Jadi Angel tidak pulang warga mengira dia melaporkan suaminya tentang aksi kekerasan yang terjadi kepadanya. Karena saya tahu sendiri pernah melihat luka memar disekitar pipi kanan Angel, tapi luka memar itu agak lama,” tutur Sholiha.
"Kemarin 3 anggota Polisi mendatangi kos-kosan dan bertanya kepada saya tempat tinggal Agus. Dan pada saat itu Agus sedang libur kerja, lalu saya tanyakan kepada anggota Polisi itu sebenarnya apa yang terjadi, tenryata Agus pelaku pencabulan, warga jadi geram,”pungkasnya.
Dikonfirmasiterpisah, Kasubnit PPA Polrestabes Surabaya, IPTU Tri Wulandari menyinggung angka kasus pencabulan di Surabaya yang masih tergolong tinggi
“Sementara angka pencabulan di kota Surabaya masih cukup tinggi. Tinggi kasus pencabulan yang melibatkan pelaku orang tua dan saudara dekat terhitung sejak tahun 2020 saat adanya Covid 19. Meski tiap tahun angka pencabulan berkurang namun tidak seknifikan,” ujarnya.
“Memang tentang pencabulan yang melibatkan saudara dan orang tua adalah kasus yang harus menjadi perhatian exstra. Penyebab utamanya dari segi ekonomi dan tempat tinggal merupakan faktor pendukung terjadinya aksi tersbeut. Dan selama kita menangani kasus ini kebanyakan disebabkan rumah tempat tinggal yang kecil dan saat tidur akses tempat tidurnya menjadi satu, ini yang membuat pemicu aksi pencabulan,”pungkasnya. (rus/red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




