Kiai Syarifudin saat menuntun WNA dan pemuda asal NTT membaca syahadat
Sedangkan Kristian Manayaki mengatakan bahwa alasannya memeluk islam bukan karena ingin menikah, melainkan murni ibadah ingin mengikuti ajaran Rasulullah SAW
“Betul-betul bukan karena terpengaruh (paksaan) atau mau menikah,” ucapnya.
Sebelum prosesi ikrar dimulai, Kiai Syarifuddin berpesan, bahwa ibadah yang tidak bisa ditinggal adalah shalat lima waktu, apapun alasannya.
“Apalagi ngelu tok wis gak shalat (cuma pusing sudah gak shalat). Jangankan sakit, gak bisa berdiri pun bisa dilakukan dengan duduk, gak bisa duduk ya tidur, gak bisa dengan tidur ya kedip-kedip. Saking pentingnya ibadah, itu bukan untuk kepentingan Allah tapi untuk sampean semua, dirinya sendiri. Jadi kepentingan ibadah ini bukan untuk orang lain, bukan Allah, tapi untuk diri sendiri,” paparnya.
Prosesi ikrar berjalan dengan lancar, Kiai Syarifuddin menuntun bacaan dua kalimat syahadat tersebut secara bergantian.
Sebelum doa bersama seusai ikrar, Kiai Syarifuddin menjelaskan bahwa bacaan kalimat syahadat yang mengatakan ‘saya bersaksi’ bukanlah menyaksikan secara langsung, melainkan dengan keyakinan hati.
“Sampean bersaksi itu dengan apa? Apa dengan mata? Bukan, tapi dengan hati, meyakini bahwa tuhan itu hanya Allah, tidak ada tuhan yang wajib kita sembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang membawa ajaran-ajaran islam di muka bumi ini, utusan sekaligus kekasih Allah,” pungkasnya. (msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




