Baca Syahadat 9 Kali Tiap Hari, Ali Khamenei Tetap Dikafirkan, Salafi Lebih Islam dari Rasulullah?

Baca Syahadat 9 Kali Tiap Hari, Ali Khamenei Tetap Dikafirkan, Salafi Lebih Islam dari Rasulullah? Ali Khamenei. Foto: Anadolu/tvri

Oleh: M. Mas'ud Adnan

JAKARTA, BANGSAONLINE.com – Ini bukan soal Iran versus Amerika Serikat dan Israel. Tapi murni soal pemahaman agama (Islam). Kelompok Salafi Wahabi sangat gencar mengafirkan Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu 28 Februari 2026. 

Bukan hanya Ali Khamenei. Kiai-kiai NUjuga dikafirkan oleh Salafi Wahabi yang di Indonesia. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berapa kali dikafirkan oleh Salafi Wahabi.

Salafi Wahabi di Indonesia memang popular sebagai kelompok takfiri (suka mengafirkan kelompok lain). Mereka merasa lebih Islam dan beriman dari kelompok lain. Bahkan kelompok Salafi Wahabi merasa lebih Islam dan lebih beriman daripada Rasulullah SAW.

Buktinya Rasulullah SAW sendiri tak pernah menghakimi keyakinan orang atau umatnya. Apalagi menghukumi kafir seperti Salafi Wahabi mengafirkan Ali Khamenei.

Rasulullah SAW bahkan marah ketika Sahabat Usamah bin Zaid membunuh Mirdas bin Nahik, seorang kafir yang dalam keadaan terdesak lalu membaca syahadat. Saat itu Usamah melakukan ekspedisi militer. Mirdas melawan. Usamah lalu mengejar. Mirdas terdesak lalu baca syahadat. Tapi Usamah tetap membunuhnya.

Peristiwa ini terdengar Rasulullah SAW. Beliau marah. Tapi Usamah beralasan bahwa Mirdas baca syahadat karena takut pedang alias takut dibunuh. Karena itu ia pura-pura baca syahadat. Jadi, menurut Usamah, Mirdastidak tulus baca syahadatnya.

Rasulullah SAW semakin marah.

"Kenapa tidak sekalian belah dadanya agar kamu tahu dia jujur atau tidak," kata Rasulullah.

Dalam bahasa lain, "Apakah kamu telah membelah dadanya sehingga kamu tahu bahwa dia jujur atau tidak. Tulus atau tidak saat bersyahadat".

Nabi Muhammad sangat arif. Nabi tidak menghukumi hati manusia tapi menghukumi apa yang tampak.

Usamah pun sangat menyesal. Ia berjanji tak akan membunuh orang yang sudah bersyahadat. Dalam kaidah fiqh ini dikenal dg postulat:

نَحْنُ نَحْكُمُ بِالظَّوَاهِرِ وَاللهُ يَتَوَلَّى السَّرَائِر

Artinya: Kami menghukumi yang tampak dan Allah yang mengurusi rahasia hati.

Bayangkan! Orang yang bersyahadat karena terdesak saja Rasulullah melarang keras dibunuh. Apalagi orang yang tiap hari bersyahadat secara istiqamah dan penuh kesadaran.

Nah, Ali Khamenei tiap hari baca syahadat. Bahkan lebih dari satu kali dalam sehari.

Kok tahu? Ali Khamenei kan tiap hari shalat. Semua orang yang shalat – termasuk Ali Khameni - pasti baca syahadat. Tepatnya saat tahyat.

Bahkan orang yang shalat lima waktu tidak hanya baca syahadat satu kali. Tapi 9 kali!

Kita hitung. Shalat dzuhur empat rakaat. Terdiri dari tahyat awal dan tahyat akhir. Pada tahyat awal baca syahadat satu kali. Pada tahyat akhir baca lagi syahadat satu kali. Berarti baca syahadat dua kali.

Kemudian shalat ashar. Juga empat rakaat. Baca syahadat lagi pada tahyat awal dan tahyat akhir. Berarti empat kali baca syahadat.

Lalu shalat maghrib. Terdiri dari tiga rakaat dan juga tahyat awal serta tahyat akhir. Otomatis baca syahadat dua kali. Berarti sudah baca syahadat enam kali.

Pada malam hari shalat isya’. Juga terdiri dari empat rakaat. Yang berarti juga terdiri dari tahyat awal dan tahyat akhir. Lagi-lagi baca syahadat dua kali. Berarti sudah baca syahadat delapan kali.

Kemudian shalat subuh. Terdiri dari dua rakaat. Yang berarti hanya satu kali tahyat. Berarti baca syahadat satu kali.

Nah total baca syahadat 9 (sembilan) kali.

Masak orang tiap hari istiqamah baca syahadat masih dikafirkan.

Apalagi Quran dan Tuhannya juga sama dengan kita.

Saya gak bisa bayangkan seandainya Rasulullah SAW masih hidup. Bagaimana respons Rasulullah SAW.

Saya lalu ingat saat saya ngaji di kampung sebelum saya mondok di Pesantren Tebuireng Jombang. Saya ngaji kitab Sullamut Taufiq. Yaitu kitab untuk orang awam atau orang kampung.

Kitab Sullamu Taufiq berisi masalah tauhid (teologi), fiqh, dan akhlak. Yang bersifat elementer.

Dalam kitab itu ada Hadits: إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا Artinya: Jika ada seseorang memanggil kafir pada sahabatnya atau sesama muslimnya maka cap kafir itu kembali kepada orang yang mengucapkan kafir itu.

Apa Haditsnya shahih? Hadits ini muttafaq alaih alias diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Jadi super shahih.

Dan Hadits ini sering dinukil KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ketua umum PBNU tiga periode yang juga Presiden ke-4 Republik Indonesia. 

Semoga kita dapat hidayah sehingga kita tidak jadi takfiri yang mudah menghakimi keyakinan atau keimanan orang lain, tidak merasa paling benar, paling beriman dan paling Islam.

Saya sendiri sebagai kader NU tentu banyak perbedaan dalam pemahaman keagamaan dengan kelompok Syiah. Tapi saya tak berani menghukumi kafir orang sudah jelas-jelas bersyahadat.

Wallahua'lam bisshawab.