Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie.
Sementara nilai Ashlahiyah lebih dari itu, seperti keputusan Sulaiman A.S. sebagai mana dipapar di atas.
Perang melawan Damaskus dan umat islam dianugerahi kemenangan. Sebut saja panglimanya bernama al-Walid putra Abdillah. Al-Walid melihat gereja besar nan megah dan diyakini sebagai sentral penyebaran agama Kristen, sekaligus kebanggaan penduduk negeri itu.
Dengan tegas al-Walid memerintahkan anak buahnya segera merobohkan gereja favorit tersebut hingga rata dengan tanah.
Lalu, Raja Damaskus mengirim surat teguran kepada al-Walid yang isinya: "Engkau telah menghancurkan gereja itu, di mana ayahmu dulu memandangnya bagus dan dibiarkan. Jika tindakanmu benar, maka sikap ayahmu salah, dan sebaliknya, jika tindakan ayahmu benar, maka tindakanmu yang salah."
Membaca teguran tersebut, al-Walid menjawab singkat dengan mengutip ayat kaji ini, "Wa Dawud wa Sulaiman idz yahkuman... dst.".
Dengan demikian jelas sekali, bahwa penghancuran tempat ibadah non muslim itu TIDAK MUTLAK dilarang dan pada kasus ini ada rujukannya. Tentu saja harus dipertimbangkan secara bijak.
Tentang shalahiyah dan ashlahiyah di negeri ini bisa dilihat pada keputusan Mahkamah Konstitusi soal umur calon presiden dan wakil pada pemilu 2024 kemarin. Begitu halnya soal batasan umur bagi calon kepada daerah atau wakilnya.
Dalam hal ini, pasti ada debatable. Dari usia presiden dan wakil yang dipatok 40 tahun diubah secara mendadak menjadi kurang dari itu. Semua rakyat negeri ini yang punya hati dan akal sehat pasti paham maksud di balik perubahan tersebut dan kepentingan siapa.
Hanya saja ada yang bersuara dengan dasar “ashlahiyah” dan ada yang diam, membutakan hati nuraninya sendiri, membungkam mulutnya sendiri, dan tidak mau berkata kebenaran. Dalam agama, diamnya orang yang mengerti, diamnya ilmuwan, diamnya ulama’, itu ada dua kemungkinan:
Pertama, karena menganggap persoalan yang dihadapi sebagai benar, dan kedua, karena ditekan atau dibayar. Meski mengerti bahwa persoalan tersebut tidak ashlahiyah dan hati nurani tidak menerima, kok jadinya hanya diam. Ya, sebab diam itu lebih menguntungkan.
Itulah sebabnya, maka Rasulullah SAW dalam urusan baik dan tidak, apalagi urusan benar dan salah, maka diperintahkan merujuk ke hati nurani. Mintalah nasihat kepada hatimu yang masih bersih itu, “Istafti Qalbak”.
Shalat dan tenanglah, lalu ajak bicara hati anda, singkirkan semua kepentingan, maka anda pasti menemukan jawaban dari Dzat Yang Memiliki hati nurani tersebut, pasti dan pasti. Dialah Allah SWT.
Jadi soal umur presiden dan wakil yang semula 40 tahun lalu mendadak diubah dan anda seorang ilmuwan, seorang kiai, maka dalam hal ini anda ada di pihak mana? “Istafti qalbak”. Suara hati, suara ilahi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




