Penderita hemofilia saat dikunjungi petugas dari BPJS Kesehatan.
"Sekitar umur 2 tahun anak saya kan sudah bisa jalan dan lari, lalu terbentur kursi akhirnya gusinya berdarah. Saya kasih vitamin untuk penghambat darah dan dikompres dengan es batu akhirnya berhenti. Tapi yang kedua juga seperti itu sampai perdarahan kemana-mana dan saya bawa ke rumah sakit selama 5 hari. Saya menceritakan riwayat yang dimiliki keluarga saya akhirnya dirujuk ke rumah sakit di Surabaya. Dari situ diketahui jika anak saya terkena hemofilia faktor 9 dan ternyata biaya pengobatannya sangat mahal kalau tidak pakai JKN,” ucapnya.
Pada saat itu Aprliya harus merogoh kocek sebesar 25 juta untuk pengobatan sang anak menggunakan biaya pribadi. Karena biaya yang sangat tinggi, dokter yang menangani anaknya mengatakan jika penyakit ini dapat ditanggung oleh JKN. Kini Apriliya merasa bersyukur pengobatan anaknya dapat dibantu oleh JKN secara gratis dan pelayanan yang diberikan sangat baik dan diprioritaskan.
Masih menurut Apriliya, ketika dilakukan pengecekan laboratorium dan anaknya dinyatakan hemofilia lalu disuruh rawat inap selama 4 hari dan ia harus membayarkan uang muka sebesar 15 juta. Bahkan sekali inject sebesar 6 juta.
"Saat itu saya tidak tahu apakah bisa pakai JKN karena di rumah sakit saya bekerja baru pertama kali menemukan kasus seperti ini. Akhirnya saya pakai biaya mandiri dan habis sekitar 25 juta. Dari situ saya diberitahu dokter jika bisa menggunakan JKN dan ternyata di Kediri ada rumah sakit yang bisa memberikan obatnya,"ucapnya.
Karena jika tidak pakai JKN, lanjut dia lagi , biayanya akan sangat mahal karena harus dilakukan injeksi seumur hidup. Apriliya sangat bersyukur karena akhirnya bisa terbantu pengobatannya, tidak perlu mengeluarkan biaya mahal lagi. Pelayanan rumah sakitnya baik, dan pasien hemofilia selalu diprioritaskan.
"Jika perawatan yang dijalani untuk mengobati penyakit anak saya sangat mahal, jika tidak menggunakan JKN," pungkasnya. (uji/BPJS Kesehatan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




