Khofifah Petik Keteladanan Tokoh Sufi Imam Ma’ruf Al-Karkhi soal Kesantunan dan Cinta Pencipta

Khofifah Petik Keteladanan Tokoh Sufi Imam Ma’ruf Al-Karkhi soal Kesantunan dan Cinta Pencipta

“Di sana, mereka melihat sekelompok pemuda sedang bermusik sambil mabuk mabukan di atas perahu. Seraya santri beliau usul agar perahu tersebut ditenggelamkan,” imbuhnya.

Imam Ma'ruf Al Kharki pun kemudian menengadahkan tangan berdoa kepada Allah. Namun bukan doa agar sekelompok muda tersebut ditenggelamkan, namun sebaliknya, beliau malah mendoakan kebaikan untuk para pemuda tersebut agar segera bertobat.

“Beliau berdoa ‘Ya Allah jika Engkau telah senangkan hidup mereka di dunia maka senangkanlah mereka di akhirat kelak,’. Mendengar doa ini maka kagetlah para santri beliau. Ketika beliau ditanya kenapa justru mendoakan agar mereka disenangkan di akhirat, Maka Imam Ma'ruf Al Kharki menjawab jika mereka ditenggelamkan maka mereka akan mati dalam keadaan berlumuran dosa,” urai .

Tetapi jika didoakan agar Allah menyenangkan mereka di akhirat maka berarti Imam Ma’ruf Al Karkhi mendoakan mereka agar segera diberi kesempatan untuk bertobat dan berbuat baik. Begitulah dikatakan , Imam Ma'ruf Al Kharki dikenal ulama tasawuf yang agung yang mengajarkan kesantunan dan bertutur kata yang baik.

Jika dicermati dengan baik, ujar wanita yang juga Ketua Umum IKA Unair tersebut, kalimat doa yang dipanjatkan Imam Ma’ruf Al Karkhi mengandung makna yang sangat dalam. Tidak mungkin seseorang bisa bersenang-senang di akhirat jika mereka ahli maksiat dan tidak pernah beramal baik. Artinya, dengan doa tersebut Imam Ma’ruf al-Karkhi sedang memohonkan tobat untuk mereka, tapi dengan cara yang halus dan beradab.

Sisi menariknya, Imam Ma’ruf al-Karkhi melibatkan murid-muridnya dalam proses pengajaran akhlak melalui doa ini. Dengan demikian, murid-muridnya turut mendapat pahala dari tobatnya para pemabuk itu, yang akhirnya membuat mereka lebih sadar terhadap tanggung jawab seorang muslim kepada muslim lainnya.

Di sisi lain, konsep ajaran tasawuf yang diterapkan Imam Ma’ruf Al Karkhi juga tentang hasil perolehan jiwa dari mahabbah (cinta) yang dirasakan oleh Rabiah al Adawiyah. Menurutnya, cinta harus dilanjutkan sampai titik tuma’ninah (ketenangan jiwa). Karena cinta dan ketenangan itulah yang menjadi tujuan tasawuf.

Imam Ma’ruf Al Karkhi mengajarkan bahwa kebahagiaan yang sebenarnya dan kekal bukanlah kekayaan harta benda, melainkan kekayaan hati. Kekayaan hati hanya dapat dicapai melalui makrifah(pengenalan) terhadap yang dicintai. Apabila yang dicintai telah dikenal, terwujudlah kebahagiaan dan ketentraman dalam hati dan menjadi kecil segara urusan kebendaan dalam penglihatan hati. (dev/ns)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO