Ribuan peserta muktamar yang berkumpul di Ponpes Tebuireng karena enggan datang ke lokasi muktamar di alun-alun Jombang yang dianggap tidak sah. (foto: rony suhartomo/BANGSAONLINE)
Di dalam pesantren itu ada yang bermunajah di masjid, ada yang membaca al-Qur'an di makam dan sebagainya bahkan hampir menjelang fajar. Apa hikmah di balik itu semua. Antara lain :
Pertama, mereka adalah para pengurus yang ikhlas, sehingga diselamatkan oleh Allah SWT dari dosa dan kezaliman. Mereka dijauhkan dari mengotori NU dengan ulah yang dilarang agama. Sebab, sudah bukan menjadi rahasia lagi, bahwa di alun-alun, di arena pemungutan suara itu uang dan uang berseliweran dalam remang, membisik dan merayu para muktamirin yang mau menjadi budaknya.
Sekedar 20 juta saja sangat kecil dan mudah didapat. Tapi, jangan sekali-sekali bertanya "So, sekelas anggota Ahlul Halli Wal 'Aqdi dapat berapaan?". Sebab, pertanyaan macam itu su'ul adab dan tidak patut dialamatkan kepada kiai NU. Mereka bukanlah mereka. Para kiai itu sejatinya para pewaris Nabi dan tidak mungkin menajisi diri sendiri. Kiai tidak sama dengan preman politik atau bajingan terminalan.
Kedua, semua itu adalah langkah Allah SWT yang nyata. Allah telah memisahkan mana Muktamirin yang haq dan mana Muktamirin yang bathil. Di sinilah Tuhan turun tangan menyeleksi dengan cara-Nya sendiri hingga terjadi dua kubu berbeda.
Yang satu beristighfar dan yang lain berpesta pora. Itu juga bentuk kepedulian Tuhan terhadap NU, sekaligus memberi tahu kepada dunia, bahwa tidak semua peserta Muktamar busuk dan berorientasi kekuasaan.
Masih banyak warga Nahdliyin yang shalih-shalih, ikhlas dan bersih. Inilah pengurus NU yang imannya tangguh dan tetap berpegang pada akhlaq karimah. Meskipun mereka tahu, bila pergi ke alun-alun dan memberikan suara pasti mendapat uang. Tapi bagi mereka, ridla Allah, syafaat Rasulillah SAW dan keberkahan kiai Hasyim Asy'ari dan para kiai pendiri NU jauh lebih berharga ketimbang sekedar helai rupiah. "Barakallah fikum".
Muktamirin yang sengaja melakukan kebusukan, bermain politik uang dengan keji, maka pasti tidak tenang, hatinya berontak dan jiwanya guncang. Jika demikian, berarti dia masih punya iman. Tinggal beristighfar, bertobat dan berhenti. Bila tenang-tenang saja dan tidak merasa berdosa, tidak merasa menyalahi akhlaq karimah atau amanah nahdliyah, maka dikhawatirkan mati su'ul khatimah. Na'udz billah min dzalik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




