Kontradiksi Jokowi, antara Kepala Rumah Tangga dan Kepala Negara

Kontradiksi Jokowi, antara Kepala Rumah Tangga dan Kepala Negara Suhermanto Ja'far. Foto: dok. pribadi

Pernyataan dan tindakan presiden yang ambigu ini merupakan bentuk contradicitio in terminis. Contradictio in terminis adalah frasa Latin yang berarti "kontradiksi dalam istilah". Ini mengacu pada frasa atau pernyataan yang mengandung kontradiksi internal, sehingga secara logis tidak mungkin benar. Pernyataan Presiden yang viral baik di media mainstream maupun media sosial tentang ASN dan pejabat public yang diharapkan netral tapi pada saat yang sama presiden menyatakan bahwa presiden dan menteri boleh kampanye dan berpihak.

Pernyataan presiden yang contradictio in teminis ini merupakan kesalahan logis tentang sikap seorang yang bertentangan dalam suatu hal yaitu netral dan berpihak sekaligus. Frasa yang mengandung contradictio in terminis menjadi tidak jelas maknanya dan sulit dipahami.

Contradictio in terminis ini dilakukan secara sadar untuk melegitimasi tindakan tertentu seseorang. Disamping itu, pernyataan salah satu ketua partai dalam kampanye yang menganggap bahwa bantuan sosial itu adalah program negara dan presiden sebagai pelaksananya, bukan program sebagai pribadi. Disinilah, terjadi personifikasi program negara kepada pribadi yang kebetulan sebagai presiden.

Contradictio in terminis ini juga kita saksikan dalam berbagai kampanye yang dilakukan oleh paslon, seperti janji janji kampanye tentang “Pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi.” Ini contradictio in terminis karena korupsi dan bersih memiliki makna yang berlawanan.

Capres-cawapres yang berlaga dalam debat calon Presiden sering kali menyatakan bahwa dia akan "Menciptakan lapangan kerja tanpa menambah pajak" - Menambah lapangan kerja biasanya membutuhkan insentif pajak, sehingga pajak kemungkinan besar akan naik - Ini adalah contoh contradictio in terminis.

Para supporter capres-cawapres memandang calonnya dianggap sebagai "Debat yang cerdas dan berkualitas." Padahal debat sering kali diwarnai dengan emosi dan serangan pribadi, sehingga sulit untuk mencapai debat yang benar-benar cerdas dan berkualitas. Tidak jarang para jurkam parpol menganggap partainya sebagai "Partai yang pro-rakyat dan pro-pasar bebas." Pernyataan ini juga mengandung kontradiksi dalam istilah karena pasar bebas sering kali tidak berbanding lurus dengan kepentingan rakyat, justru tidak menguntungkan rakyat kecil.

Pernyataan dan proposisi contradictio in terminis sering kali membingungkan masyarakat dan membuat mereka sulit untuk memilih pemimpin yang tepat. Hal ini juga menyebabkan kekecewaan dan frustrasi terhadap politik.

Masyarakat perlu kritis terhadap pernyataan politik dan mampu mengidentifikasi contradictio in terminis. Hal ini penting untuk memastikan bahwa mereka memilih pemimpin yang memiliki visi dan kebijakan yang realistis dan dapat diimplementasikan.

Contradictio in terminis adalah alat yang dapat digunakan untuk mengkritik dan menganalisis pernyataan politik. Hal ini penting untuk memastikan bahwa masyarakat memilih pemimpin yang tepat dan membuat keputusan yang terbaik untuk negara.

Disamping itu, dapat digunakan untuk mengkritik janji-janji politik, kampanye politik, dan debat pilpres yang tidak logis, tidak jelas, dan tidak mungkin. Hal ini dapat membantu masyarakat untuk memilih pemimpin yang lebih baik dan membuat keputusan politik yang lebih bertanggung jawab.

Dosen pascasarjana dan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sejumlah Pemuda di Pasuruan Dukung Muhaimin Maju Calon Presiden 2024':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO