Penampilan Calon Wakil Presiden 02 Gibran Rakabuming Raka dalam Debat Cawapres saat mencari jawaban Mahfud MD di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Minggu (21/1/2024), Foto: KPU RI
Para santri umumnya sangat tawaddlu. Baik secara fisik maupun jiwa. Lihat saja saat santri bersalaman dengan para kiai atau orang tuanya. Juga ketika bersalaman dengan orang yang lebih tua. Mereka tawaddlu secara lahiriah dan bathiniah. Artinya, gestur tubuh dan jiwanya klop karena dilandasi rasa tulus.
Tidak seperti Gibran. Membungkukkan tubuh tapi saat berdebat tidak punya sopan santun. Otomatis terasa sekedar acting. Setidaknya, itulah yang kita saksikan dalam Debat Cawapres Ahad lalu. Ia secara atraktif merendahkan bahkan melecehkan lawan debatnya: Prof Mahfud dan Muhaimin Iskandar.
Gimmick Gibran dengan gaya celingak-celinguk mencari jawaban Mahfud MD adalah gestur tubuh penghinaan yang sangat vulgar dan kasar. Padahal secara materi Gibran kerap tak bisa menjawab ketika Mahfud MD melontarkan pertanyaan. Gibran justru banyak menampilkan gimmick, atraksi, seolah-olah ia paling menguasai debat dan materi.
Dalam budaya pesantren atraksi Gibran yang over acting itu dinamakan suul adab atau akhlak buruk, ngelonjak atau tindakan melampaui batas yang tercela.
Maka sangat wajar, jika Gibran lalu dikecam mayoritas rakyat Indonesia. Terutama mereka yang beradab, beretika dan berakhlak. Bahkan simpati publik langsung drop pada Gibran. Analisis data yang dilansir Drone Emprit di media sosial X (Twitter) pada Minggu (21/1/2024) pukul 19.00-22.00 WIB menunjukkan sebanyak 60% dari percakapan di X tentang Gibran adalah negatif, 33% positif, dan 7% netral.
"Ini menunjukkan adanya sentimen yang kurang menguntungkan atau permasalahan yang mungkin sedang dihadapi oleh Gibran Rakabuming di media sosial selama jangka waktu yang ditentukan," tulis Ismail Fahmi, founder Drone Emprit, dalam cuitannya, Senin (22/1/2024).
Menurut pendiri Drone Emprit itu, para pengguna X memberikan sentimen negatif karena sikap Gibran selama debat berlangsung. Mereka mengkritik Gibran karena melanggar aturan debat dengan meninggalkan podium untuk bicara. Selain itu, putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu juga dinilai tidak memiliki adab dan etika saat debat dengan cawapres nomor urut 3 Mahfud MD.
"Ada yang menganggap Gibran sombong dan ingin merendahkan Prof Mahfud," tulis Ismail Fahmi dalam hasil analisis Drone Emprit yang dibagikan di akun X-nya.
Bahkan warganet menyebut Gibran songong, kemlinthi, tak punya adab, dan tak layak sebagai calon wakil presiden. Alasannya, selain banyak gimmick yang merendahkan juga karena pertanyaan yang disampaikan lebih banyak bersifat teknis dan tebak-tebakan bukan kebijakan.
Sebaliknya, Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD justru menuai simpati publik. Data yang dilansir Drone Emprit menyebutkan bahwa Muhaimin mendapat sentimen positif 80%, sentimen negatif 6% setimen netral 14%.
Sedangkan Mahfud MD mendapat sentimen positif 79%, sentimen negatif 12% dan setimen netral 9%.
Secara umum, warganet mengapresiasi penampilan Mahfud MD dalam Debat Cawapres itu. Warganet menilai Mahfud MD punya pengetahuan baik dalam berbagai isu yang dibahas. Mahfud juga dianggap sebagai sosok arif, bijaksana, dan cerdas dalam menyampaikan pendapatnya.
Otomatis Gibran - yang secara keilmuan dan pengalaman jauh di bawah Mahfud - gagal total untuk menjatuhkan tokoh NU yang dikenal sebagai sahabat dekat Gus Dur itu.
Alhasil, etika Gibran sangat kontras dengan budaya tawaddlu para santri. Para santri tidak pongah, tidak berwatak menghina, tidak berwatak menjatuhkan orang lain, tidak sok pintar atau jumawa, terutama kepada orang yang lebih tua dan berilmu. Sebaliknya, para santri sangat hormat dan memuliakan orang lain, terutama orang yang berilmu dan lebih tua, sekaligus menyayangi yang lebih muda.
Karena itu para kiai pesantren harus membentengi para santri dari watak buruk atau suul adab seperti yang diatraksikan putra Presiden Jokowi dalam Debat Cawapres 2024 itu. Wallahua’lam bisshawab. (MMA)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




