Kabag Administrasi Perekonomian Pemkot Kediri Tetuko Erwin Sukarno (pakai topi) saat ikut mengawal operasi pasar murah di Kantor Kecamatan Kota. Foto: MUJI HARJITA/ BANGSAONLINE
“Untuk itu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri perlu melakukan operasi pasar guna menekan harga komoditas, terutama yang dikonsumsi masyarakat. Paling tidak sampai musim panen tiba,” kata Adenan.
Sementara itu, Tetuko Erwin Sukarno, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Pemkot Kediri, menyampaikan bahwa kenaikan harga komoditas beras selama sebulan kemarin memberikan tekanan inflasi yang signifikan. Sehingga, perlu dilakukan intervensi pemerintah untuk menstabilkan pasokan dan harga yang terjangkau kepada masyarakat.
Intervensi itu dilakukan melalui operasi pasar pada tanggal 4, 5, dan 8 Februari di tiga kecamatan wilayah Kota Kediri, bekerja sama dengan Bulog Sub Divre Kediri. Jika di minggu Pertama Februari kemarin dialokasikan sebanyak 2 ton untuk masing-masing kecamatan, maka minggu kedua Februari akan ditambah alokasi pasokannya hingga 8 ton tiap kecamatan, agar bisa menjangkau lebih banyak masyarakat.
"Syaratnya cukup menunjukkan KTP Kota Kediri, maka warga dapat membeli beras kualitas medium dengan harga Rp44.000 per kemasan dengan berat 5 kg. Ini harga yang sangat terjangkau karena beras sejenis sudah dijual Rp50.000 di pasaran," ujar pria yang juga sekretaris TPID tersebut.
Erwin menyatakan, target dari pelaksanaan operasi pasar ini memberikan perasaan aman pada masyarakat. Ia menegaskan TPID Kota Kediri akan selalu berupaya menjaga ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga bahan pokok.
Sedangkan Pimpinan Cabang Bulog Kediri, Heri Sulistiyo, mengatakan selain bekerja sama dengan pemda mengadakan OP di wilayah Kota Kediri, pihaknya juga melaksanakan distribusi penjualan beras medium di beberapa pasar di Kabupaten Kediri. Seperti di Pasar Gringging dan Pasar Ngadiluwih. Termasuk di wilayah Kabupaten Nganjuk.
"Kenaikan harga beras ini banyak faktornya. Misalnya saat ini memang belum memasuki masa panen raya, dan di sisi lain cuaca ekstrem, maupun bencana alam menjadi tantangan tersendiri bagi para petani yang kini memasuki masa pertengahan tanam padi," pungkas Heri Sulistiyo. (uji/ns)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




