Elektabilitas Cak Imin Rendah, Ini Tiga Kendala Utamanya, Tak Perlu Pakai Jurus Mabuk

Elektabilitas Cak Imin Rendah, Ini Tiga Kendala Utamanya, Tak Perlu Pakai Jurus Mabuk A Muhaimin Iskandar. Foto: twitter

Ia mengidentifikasi basis massa dan PKS. Ia mengakui massa dan PKS sama-sama muslim. Tapi identik dengan NU dan massa Islam tradisional. Sedang PKS identik dengan massa Islam perkotaan. Sehingga sulit bersatu.

Arsul Sani juga menyentil. Menurut dia, semut merah itu tak bisa bersatu dan beriringan.

“Yang bersatu dan beriringan itu semut item. Gitu Lho,” kata Wakil Ketua Umum PPP itu.

“Kalau semut merah tak bisa bersatu. Semut merah itu suka jalan sendiri,” tambahnya.

Yang paling keras tentu Ketua PWNU Jawa Timur Dr KH Marzuki Mustamar. “Goblok, sak pol-pole,” kata Kiai Marzuki Mustamar di depan warga NU.

Namun terlepas dari semua itu, memang politisi tulen. Pantang menyerah. Ia punya obsesi besar. Untuk karir politiknya. Terutama untuk duduk sebagai Capres. Atau Cawapres.

Hanya saja, pertanyaannya, realistis atau justru utopis? Sebab problem politik sangat kompleks. Yang kemudian berakibat pada elektabilitas rendah. Apa saja?

Pertama, distigma sebagai pengkhianat . Dan itu disampaikan langsung oleh Yenny Wahid, putri .

“Jadi sebagai pendiri diusir dari rumah politiknya sendiri (-Red),” kata Yenny Wahid dalam video yang kini beredar luas. Bahkan setiap muncul ke permukaan, terutama sebagai Capres, video itu selalu beredar di media sosial. Terutama di grup-grup WhatsApp (WA) para kiai NU.

“Kenyataan pahit. Bahwa perilaku politisi kita tak terpuji. Sehingga banyak nilai-nilai luhur diabaikan untuk mendapatkan posisi,” tegas Yenny. Secara tegas Yenny mengatakan bahwa yang dimaksud politisi kita itu adalah . “Ya, gak usah ditutup-tutupi,” kata Yenny.

Menurut Yenny, sebagai keponakan dan sebagai kader partai tak bisa menghormati pendiri . “Sama sekali tak menghormati,” kata Yenny.

Ironisnya, tetap memasang gambar . Padahal, kata Yenny, sudah berwasiat: selama dipimpin dilarang memakai gambar .

Karena itu Yenny menuding manipulasi dan melakukan kebohongan kepada masyarakat. “Itu hal yang sangat fundamental. Hal yang sudah diketahui masyarakat saja bisa bohong, apalagi yang tidak ketahuan,” kata Yenny sembari mengatakan, lalu apa yang bisa diharapkan dari politisi seperti .

Dan banyak lagi video serupa, baik dari Yenny maupun pendukung yang lain. Juga berita-berita yang memberikan stigma pengkhianatan pada .

Kedua, stigma kasus kardus durian. Hingga saat ini stigma kasus dugaan korupsi ini melekat kuat pada . Lihat saja komen-komen netizen di media sosial. Setiap muncul berita manuver politik , pasti bertebaran komentar yang menyebut kardus durian.

Padahal belum tentu bersalah. Belum ada putusan pengadilan. Atau saya yang tak tahu? Tak dengar? Entahlah. Yang pasti kasus itu menjadi stigma negatif luar biasa.

(Yenny Wahid. Foto: Instagram)

seharusnya memberi klarifikasi ke publik. Bahwa dirinya tak terlibat dalam kasus yang sangat merugikan karir politiknya itu. Tentu dengan menampilkan bukti-bukti kongkrit. Atau – sekali lagi – saya yang tak tahu?

Tapi kalau toh pernah memberikan klarifikasi, kini saat yang tepat untuk memberikan klarifikasi lagi secara gamblang kepada publik. Bahwa dirinya tidak terlibat dalam kasus itu. Syukur, jika KPK juga ikut menjelaskan.

Ketiga, stigma nepotisme. Stigma ini tak hanya muncul di publik. Tapi juga di internal . Stigma itu heboh ketika merekomendasikan Abdul Halim Iskandar, kakak kandungnya sebagai menteri. Sebelumnya juga merekomendasikan iparnya, Mohamad Nasir, sebagai menteri yang kemudian menduduki Menristek Dikti pada kabinet Jokowi

Bawa Ipar dan Saudara Kandung Masuk Kabinet,” demikian judul berita detik.com edisi Rabu, 23 Oktober 2019.

Menurut detik.com, Mohamad Nasir adalah kakak ipar . Ia menikah dengan Hasibyah. Sedang Abdul Halim Iskandar adalah kakak kandung .

Sejak itu publik menelisik dugaan nepotisme . Ternyata Gus Nanang, panggilan Abdul Halim Iskandar, tak hanya direkom sebagai menteri tapi juga ketua DPW Jawa Timur. Bahkan di baliho banyak foto bersanding dengan kakaknya, Gus Nanang. Sebagian publik heran, kenapa tidak risih foto kakak-adik bersanding dalam partai yang sama yang ketua umumnya adalah adiknya sendiri.

Ternyata tidak hanya dua kerabatnya yang bawa. Beberapa kerabat lain ada yang di legislatif dan

Nah, tiga stigma negatif ini tampaknya harus segera diatasi oleh dan . Saya yakin, jika bisa segera mengatasi tiga stigma itu, elektabilitas akan langsung merangkak naik, meski tak langsung melejit.

Jadi tak perlu pakai jurus mabuk. Lebih stategis dan kongkrit, jika fokus menyelesaikan tiga kendala utama itu. Wallahua’lam bisshawab. (M Mas’ud Adnan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Semua Agama Sama? Ini Kata Gus Dur':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO