Proses digitalisasi manuskrip atau naskah tulisan tangan kitab-kitab kuno koleksi Pondok Pesanten Tebuireng, Jombang. foto: ist.
JOMBANG, BANGSAONLINE.com - Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang, Jawa Timur, melakukan digitalisasi terhadap 15 kitab kuno. Hal itu dilakukan untuk mencegah kitab-kitab tersebut dari kerusakan. Mengingat, kitab kuno semakin hari semakin rawan hancur karena faktor usia.
Digitalisasi itu dilakukan Ponpes Tebuireng bekerja sama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melalui Program Dreamsea. Belasan kitab yang didigitalkan adalah naskah manuskrip atau tulisan tangan. Di antaranya kitab fiqih tulisan tangan era KH. Hasyim Asyari. Ada juga mushaf Al-Quran tulisan tangan dari timur tengah dari abad ke-19.
BACA JUGA:
- Halal Bihalal Alumni Pesantren Tebuireng, Menhaj Gus Irfan: Menteri Tak Boleh Terima Amplop
- Hari Ini Munas Ikapete dan Festival Pesantren Tebuireng 2026 Digelar
- 3.300 Santri Tebuireng Ikuti Mudik Bareng Idulfitri
- Peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama Versi Masehi, Ribuan Peserta Ikut Napak Tilas Bangkalan-Jombang
Peneliti PPIM UIN Jakarta, Abdullah Maulani (27), mengungkapkan pentingnya digitalisasi tersebut karena Tebuireng merupakan salah satu pesantren legendaris yang menyimpan banyak kitab kuno.
"Digitalisasi itu agar kitab tersebut bisa dinikmati oleh semua orang di kemudian hari," ujar Maulani melalui keterangan tertulis, Selasa (24/05/2022).
"Kitab-kitab kuno ini memiliki khazanah dan keistimewaan, sehingga perlu disampaikan kepada masyarakat. Maka perlu adanya digitalisasi," imbuhnya.

Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




