KH A Hasyim Muzadi. Foto: lintasterkininews.com
Begitu juga paham Syiah di Sampang Madura sehingga timbul konflik besar. ”Mereka bukan hanya menyebarkan paham Syiah, tapi dalam pidato-pidatonya merendahkan para kiai. Pidatonya kan pakai pengeras suara. Jadi orang-orang di kampung semua dengar,” kata KH Syamsuddin (Ra Uud) dan Faishol kepada BangsaOnline.com. Dua aktivis NU di Sampang ini aktif memberikan bantuan kepada warga di sekitar “kampung Syiah” di Sampang.
Sementara dari Jakarta dilaporkan bahwa Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Moh. Mahfud MD, mengaku sering membayangkan Muktamar NU mendatang seperti pada era Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari dan generasi sesudahnya, serta beberapa generasi setelah itu.
“Mereka kan tidak pernah pada rebutan,” ujar Mahfud MD di hadapan peserta diskusi bulanan bertema “Menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama: Muktamar Bersih” yang digelar MMD Initiative di Hotel Sofyan Cikini Jakarta, Senin (30/03) malam. “Yang saya lihat mereka saling tunjuk saja dan yang lain ikut saja,” terang Mahfud.
Meski demikian, Mahfud menilai persaingan dalam muktamar sah-sah saja. “Sekarang, tentu bersaing itu boleh tetapi tentunya tidak dalam konteks menjadikan NU itu sebagai kendaraan politik, tetapi sebagai kendaraan untuk memperjuangkan nilai-nilai dasar Ke-NU-an. Sesuai dengan dasar NU itu sendiri,” tegasnya seperti dikutip NU Online.
Mahfud mendukung pelaksanaan muktamar secara terbuka dan bersih dari praktik-praktik kotor. Menurut dia, praktik tidak bersih kini tak hanya milik partai politik, tapi sudah menjalar ke mana-mana, termasuk organisasi olahraga, ormas keagamaan, dan sebagainya.
“Pake uang, pake janji-janji politik, pake transaksi politik dan intervensi kekuatan dari luar sering terjadi,” ujar Mahfud usai diskusi.
“Nah NU mudah-mudahan tidak, makanya saya adakan (diskusi Muktamar Bersih) seperti ini,” tuturnya seperti dikutip obsessionnis.com.
Diskusi dihadiri para tokoh NU yang didaulat sebagai pembicara antara lain Katib Aam Syuriah PBNU KH A Malik Madani, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), dan mantan Sekjen PBNU era Gus Dur KH Ahmad Bagdja. (tim)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




