Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. (kiri) dan Dr H As'ad Said Ali.
“Belum lagi keberhasilan beliau dalam menata dan membesarkan Pergunu sehingga menjadi organisasi guru yang cukup membanggakan. Dengan latar belakang kemampuan manajerial seperti itu, kita berharap bahwa Rais 'Aam akan mampu menjadikan Syuriyah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi yang berwibawa dan bermartabat yang tidak bisa dikooptasi dan dikadali oleh Tanfidziyah,” urainya panjang lebar.
“Hal ini harus saya katakan, karena dalam banyak kasus - baik di PBNU maupun di PWNU dan tingkatan-tingkatan kepengurusan di bawahnya - Syuriyah dipimpin oleh kiai yang alim dan wira'i, tapi lemah dalam aspek organisasi dan manajemen,” katanya.
Akibatnya, kata Kiai Malik Madani, NU lebih sering dikendalikan oleh Tanfidziyah. “Syuriyah lebih tampak sebagai pemberi stempel, bukan penentu kebijakan. Situasi seperti ini tidak akan terjadi apabila duet Kiai Asep-Kiai As'ad terpilih dalam Muktamar ke-34 nanti,” tegasnya.
Hal ini, kata dia, bukan saja karena kemampuan manajerial Rais 'Aamnya yang andal, melainkan juga karena kemampuan ketua umumnya dalam memanaj organisasi dan birokrasi lewat kariernya di Badan Intelijen Negara (BIN).
“Kita tahu, Kepala BIN berganti beberapa kali, tapi Wakil Ketua BIN tetap As'ad Said Ali. Kemampuan Kiai As'ad yang seperti ini tidak perlu dikhawatirkan mendorong dirinya untuk mengkooptasi Syuriyah, karena Kiai As'ad adalah produk Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta yang sangat low profile, tawadlu', dan sangat menghormati dan menghargai kiai dalam arti yang sebenar-benarnya, bukan menghargai dalam arti memberikan harga atau tarif untuk para kiai. Wal-'iyadz billaah. Semoga impian untuk menduetkan kedua tokoh ini menjadi kenyataan! Aamiin yaa Mujiibas-saailiin!,” harap Kiai Malik Madani. (mma)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




