Begini Suka Duka Agen Perisai Merekrut Peserta BPJamsostek Sidoarjo di Masa Pandemi

Begini Suka Duka Agen Perisai Merekrut Peserta BPJamsostek Sidoarjo di Masa Pandemi TELATEN: Luluk saat sosialisasi dan membagikan kartu BPJS Ketenagakerjaan ke ibu-ibu PKK.

SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mengambil sejumlah langkah untuk mengedukasi sekaligus mengajak masyarakat menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Salah satu caranya dengan membentuk sistem keagenan. Yaitu, melalui Penggerak Jaminan Sosial Nasional (Perisai).

Di Sidoarjo, berbagai cara dilakukan agen Perisai untuk mengajak masyarakat menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Suka duka dialami agen Perisai dalam menjalankan profesinya. Apalagi di saat pandemi Covid-19.

Meski demikian mereka tak gentar. Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat, Perisai berupaya untuk memperluas cakupan kepesertaan pekerja informal atau Bukan Penerima Upah (BPU) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Di Sidoarjo, agen Perisai bisa dari mana saja dan siapa saja. Seperti yang dilakukan Luluk. Meski usianya sudah 53 tahun, perempuan asal Desa Semambung, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo ini merupakan salah satu agen Perisai senior dari Kantor BPJamsostek Sidoarjo.

Dia pernah terpilih menjadi agen terbaik mewakili Sidoarjo untuk mendapatkan pelatihan tingkat nasional pada 2019. Meski sudah terlatih, adanya pandemi membuat dia harus memutar otak lagi.

Apalagi, sosialisasi dengan mengumpulkan orang saat itu masih dilarang. Covid-19 yang sempat mengganas pertengahan 2021 juga semakin mempersempit ruang gerak orang untuk tatap muka.

Namun, Luluk tak hilang akal. Wanita single parent dengan satu cucu ini pun mengubah pola kerjanya. Dia memanfaatkan jaringan pertemanan yang dimilikinya. Mulai dari dari grup WhatsApp hingga media sosial (medsos).

“Saat pandemi semuanya menjadi susah. Orang-orang takut dan waswas. Karena itu pola kerja diubah dengan memanfaatkan jaringan saya,” ungkapnya.

Itu pun juga tidak gampang. Sejumlah penolakan dari masyarakat untuk bergabung sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan sudah biasa baginya.

“Intinya jangan kendor harus yakin. Toh kita memberikan informasi manfaat bagi mereka untuk ke depannya,” ucap perempuan murah senyum ini.

Dengan hanya membayar minimal Rp 16.800 per bulan, sebenarnya peserta sudah bisa mendapatkan dua program. Yakni, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). “Pokoknya harus telaten dan tekun serta sabar,” imbuhnya.

Akhirnya, kerja kerasnya membuahkan hasil. Sejumlah teman, tetangga, keluarga dan koleganya satu per satu dapat memahami apa yang dijelaskan Luluk. Pentingnya keikutsertaan menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan bisa dimengerti oleh mereka.

Usai kontak-kontakan lewat handphone, Luluk pun mengajak mereka untuk kopi darat. Tujuannya untuk menjelaskan lebih gamblang. Hingga kini, sebagai Perisai, Luluk mengaku mendapatkan rata-rata penghasilan tiap bulan Rp 2,5-Rp 3 juta.

Simak berita selengkapnya ...