Potensi Perbedaan Lebaran 2026, Kemenag Bojonegoro Imbau Masyarakat Jaga Kerukunan

Potensi Perbedaan Lebaran 2026, Kemenag Bojonegoro Imbau Masyarakat Jaga Kerukunan Ilustrasi.

BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Menjelang akhir Ramadhan 1447 Hijriah, muncul prediksi mengenai potensi perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri 2026 di Indonesia. Di Kabupaten Bojonegoro, Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah telah mengumumkan ketetapan waktu lebaran, sementara Kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat masih menunggu keputusan resmi pemerintah pusat.

Wakil Ketua PD Muhammadiyah Bojonegoro, Sholikin Jamik, mengonfirmasi bahwa warga Muhammadiyah akan merayakan 1 Syawal pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini didasarkan pada perhitungan astronomis.

"Keputusan ini berdasar metode hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah," jelas Sholikin, Rabu (11/3/2026).

Ketentuan tersebut selaras dengan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang menjadi panduan ibadah bagi seluruh warga Muhammadiyah secara nasional. Sholikin juga menekankan pentingnya sikap dewasa jika nantinya terjadi perbedaan tanggal dengan pemerintah.

"Maklumat tersebut menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah. Jika penetapan lebaran Muhammadiyah nantinya berbeda dengan pemerintah, tentu sesama saudara muslim harus saling menghormati," tambahnya.

Di sisi lain, Kepala Kemenag Bojonegoro, Amanulloh, menyatakan bahwa pemerintah belum dapat memastikan tanggal jatuhnya Idulfitri 1447 H. Secara prosedural, pemerintah harus melalui tahap pengamatan hilal secara langsung (rukyatul hilal) sebelum mengambil keputusan dalam Sidang Isbat.

"Sehingga lebaran jatuh pada tanggal berapa belum bisa dipastikan. Keputusannya setelah sidang isbat pemerintah," terang Amanulloh.

Meskipun terdapat potensi perbedaan hari raya, Amanulloh berpesan agar fenomena ini tidak menjadi pemicu keretakan sosial, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat toleransi antarumat beragama.

"Jika berbeda harus saling menghormati, karena sama-sama umat muslim dan tujuannya sama yakni menuju Allah SWT," tandasnya.

Sinergi pesan dari kedua tokoh agama ini menegaskan bahwa kerukunan dan persaudaraan di Bojonegoro tetap menjadi prioritas utama di atas perbedaan teknis penanggalan. (jku/rev)