Di Hadapan Raja Keraton Jogja, Kiai Hasyim Muzadi: Agama dan Negara Saudara Kembar

Di Hadapan Raja Keraton Jogja, Kiai Hasyim Muzadi: Agama dan Negara Saudara Kembar KH Hasyim Muzadi

”Misalnya Raden Ja’far Shadiq di Kudus membuat masjid yang pinggirnya hampir sama dengan bentuk Pura, bahkan karena umat Hindu memuliakan sapi, maka saat Idul Qurban, umat Islam dianjurkan berkorban dengan kerbau, bukan dengan Sapi,” kata mantan ketua umum PBNU dua periode itu sembari menegaskan bahwa para wanita muslimah tidak pakai cadar, karena kondisi alam Indonesia berbeda dengan Arab. ”Kalau perempuan Arab pakai cadar sebab kondisi alamnya berdebu dan sangat panas,” katanya.

Di Indonesia, kata Kiai Hasyim,para kiai menekankan agar pakaian laki dan perempuan harus menutup aurat, dengan bentuk dan model sesuai dengan budayanya masing-masing.

”Dalam hal seni kalau di Arab pakai Rabbana, sedangkan di Jawa pakai Gong. Itu semua agar agama dan budaya jangan sampai dibenturkan. Sehingga agama, negara dan budaya sebagai payung dan landasan dalam membangun karakter bangsa,” katanya.

Kiai Hasyim Muzadi juga menyerukan agar ilmu dan amaliah dilaksanakan secara bersamaan. ”Misalnya wajib salat lima kali sehari. Lha kok salat lima hari sekali, ini berarti ilmu dan amaliah tidak sejalan,” katanya disambut tawa hadirin.

Begitu juga Islam mengajarkan jangan membunuh, merampok, mencuri dan berbuat dhalim. ”Lalu kenapa ISIS perilakunya seperti itu, artinya Islam dan muslim dua hal yang berbeda, ajaran Islam luhur, tapi perilaku pemeluknya tidak luhur,” katanya.

”Kita berharap tidak ada banjir, tapi hutan dibabat, gunung digundulkan. Negara itu akan makmur kalau ilmu dan amaliah berjalan dengan baik, termasuk menegakkan keadilan. Oleh karena itu Rahmannya Allah akan diberikan kepada negara yang menjauhi kedhaliman dan menegakkan keadilan,” katanya.

Sementara Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hadiwinoto dalam sambutannya menyatakan bahwa sejarah kerajaan karaton Ngayoyokarto Hadiningrat ini tidak terlepas dari sejarah Majapahit dan Kerajaan Islam Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Terbukti di Keraton ini ada Bendera dan Koin Mas yang bertuliskan Lailahaillallah. Gelar resmi Raja Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat, menunjukkan bahwa agama,negara dan budaya sebagai piranti membangun karakter bangsa. (HMS)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Mobil Dihadang Petugas, Caketum PBNU Kiai As'ad Ali dan Kiai Asep Jalan Kaki ke Pembukaan Muktamar':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO