Senin, 01 Maret 2021 23:08

Tafsir Al-Kahfi 42-44: Pengaruh Nasab Itu Hanya di Dunia

Kamis, 17 Desember 2020 12:47 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Kahfi 42-44: Pengaruh Nasab Itu Hanya di Dunia
Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

42. wauhiitha bitsamarihi fa-ashbaha yuqallibu kaffayhi ‘alaa maa anfaqa fiihaa wahiya khaawiyatun ‘alaa ‘uruusyihaa wayaquulu yaa laytanii lam usyrik birabbii ahadaan

Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua telapak tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang telah dia belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur roboh bersama penyangganya (para-para) lalu dia berkata, “Betapa sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun.”

43. walam takun lahu fi-atun yanshuruunahu min duuni allaahi wamaa kaana muntashiraan

Dan tidak ada (lagi) baginya segolongan pun yang dapat menolongnya selain Allah; dan dia pun tidak akan dapat membela dirinya.

44. hunaalika alwalaayatu lillaahi alhaqqi huwa khayrun tsawaaban wakhayrun ‘uqbaan

Di sana, pertolongan itu hanya dari Allah Yang Mahabenar. Dialah (pemberi) pahala terbaik dan (pemberi) balasan terbaik.

TAFSIR AKTUAL

Ayat studi kemarin menuturkan keadaan si kaya yang terancam hartanya berantakan karena kesombongannya. Kini kutukan itu benar-benar terjadi dan segalanya lenyap, sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa. Teman dekatnya yang biasa ngopi dan dugem bareng boro-boro menolong, malah podo minggat dan tidak mendekat. (wa ma kan lah fi'ah yanshurunah..).

Dia hanya bisa membalik telapak tangan (yuqallib kaffaih) tanda kebangkrutan model arab. Wong arab jika kecewa, maka berekspresi dengan membalik tapak tangan. Lalu berkata menyesali diri: "Ya laitany lam usyrik birabby ahada". Andai saja saya tidak musyrik kepada Tuhan, maka saya tidak akan melarat seperti ini.

Arah ayat ini:

Pertama, sebagai tamsilan terkait orang kafir dan orang beriman. Orang kafir hanya berpedoman pada kehidupan nyata saja, di dunia, dan tidak mengimani akhirat. Makanya, mereka mau membayar berapa pun demi kepuasan nafsunya, tapi enggan mendermakan hartanya untuk kebahagiaan akhirat.

Kedua, ayat ini menunjukkan hukum dunia yang berlaku bagi manusia, tanpa membedakan keyakinan yang dianut: muslim atau kafir, taat atau durhaka. Bahwa terhadap sesama manusia berlaku juga hukum konsekuensi, baik berkah maupun kualat.

Orang yang berderma akan mendapat kebajikan, tambah rezeki atau kesehatan, dan orang yang zalim dan merugikan orang lain akan mendapat kutukan atau kesengsaraan. Maka dari perspektif sosial, nonmuslim yang berderma lebih bagus ketimbang muslim yang pelit.

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.

Dua Warga Kepulungan yang Terseret Banjir Bandang Ditemukan Tewas
Kamis, 04 Februari 2021 17:21 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Dua warga Desa Kepulungan Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, yang dilaporkan hilang akibat terseret derasnya arus banjir Rabu (3/2) kemarin, akhirnya ditemukan dalam kondisi tewas, Kamis (4/2) pagi. Korban adalah ...
Kamis, 07 Januari 2021 16:58 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Pamekasan dalam masa pandemi ini tetap bertekad memberikan wahana hiburan rekreasi sekaligus olahraga, terutama bagi anak-anak dan usia dini.Melalui kapasitas dan potensi...
Senin, 01 Maret 2021 08:13 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.COM – Ternyata banyak sekali putra Indonesia yang punya potensi unggul. Di berbagai bidang. Termasuk penemuan tes Covid-19. Dalam tulisan edisi Senin, 1 Maret 2021, ini Dahlan Iskan mengangkat tentang I-Nose, hasil p...
Senin, 22 Februari 2021 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*58. Warabbuka alghafuuru dzuu alrrahmati law yu-aakhidzuhum bimaa kasabuu la’ajjala lahumu al’adzaaba bal lahum maw’idun lan yajiduu min duunihi maw-ilaanDan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. ...
Sabtu, 27 Februari 2021 11:53 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wono...