Senin, 17 Mei 2021 04:08

Dokter di Lamongan Temukan Alat Minimalisir Kontak Tenaga Medis dengan Pasien Covid-19

Selasa, 17 November 2020 15:24 WIB
Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Nur Qomar Hadi
Dokter di Lamongan Temukan Alat Minimalisir Kontak Tenaga Medis dengan Pasien Covid-19
Dokter Puskesmas Sekaran Kabupaten Lamongan, dr. Arif Cholifaturrohman dan alat temuannya. (foto: ist)

LAMONGAN, BANGSAONLINE.com - Didorong rasa keprihatinan atas banyaknya angka kematian tenaga medis di Indonesia akibat terpapar Covid-19, Cholifaturrahman, seorang dokter di Puskesmas Sekaran Kabupaten Lamongan membuat terobosan baru untuk meminimalisir terjadinya kontak antara tenaga medis dengan pasien suspek Covid-19.

Menurut dr. Arif Cholifaturrahman, alat tersebut adalah Infusion Monitoring Assistance (IMA) merupakan implementasi Internet of Medical Things (IoMT).

Infusion Monitoring Assistance atau IMA berfungsi memonitor terapi infus dari jarak jauh. IMA tersebut memiliki dua buah mikrokontroler, yaitu Attiny85 dan ESP32 serta sensor yang terdiri dari led infrared dan phototransistor,” kata dr. Arif Cholifaturrahman, Selasa (17/11/2020).

Arif Cholifaturrahman menyebutkan, hasil nilai analog dari sensor akan masuk ke Attin85 untuk dikomparasi saat ada tetesan atau tidaknya.

BACA JUGA : 

Beredar Isu ​Kasus Covid-19 di Jatim Meledak, Gubernur Khofifah: Hoax

Mantan Bupati Lamongan Fadeli Meninggal Dunia

Cegah Virus India, Inggris, dan Afsel, Khofifah Isolasi 3.636 Pekerja Migran, 33 Orang Positif

Banyak Nyawa dan Ekonomi Terdampak Akibat Kasus Penjualan Rapid Test Bekas Karyawan Kimia Farma

"Dan hasil dan komparasi nilai analog dari sensor akan menghasilkan sinyal digital yang akan masuk ke pin interrupt dari ESP32. Mikrokontraler ESP32 akan memproses data dan mengirimkan data ke bot Telegram," ungkapnya.

"Sehingga bisa memonitor infus melalui smartphone, tidak harus bolak-balik ke ruangan pasien untuk mengecek infus. Kemudian selain mengirimkan notifikasi ke Telegram, alat ini juga mengirimkan notifikasi dengan cara berbunyi," sambungnya.

Lebih lanjut, dr. Arif Cholifaturrahman menjelaskan, dirinya bersama Ahmad Cholifa Fahruddin dalam membuat Infusion Monitoring Assistance (IMA) membutuhkan waktu kurang lebih 3 sampai 4 minggu dengan biaya pembuatan satu buah alat, yaitu sebesar Rp 755 ribu.

"Ini semua saya buat sendiri, mulai dari hardware-nya, casing-nya juga bikin sendiri, saya gunakan 3D printing," pungkasnya. (qom/zar)

Artis Greta Garbo Ajak Nikah ​Albert Einstein
Rabu, 12 Mei 2021 04:07 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan episode 30 mereview cerita Gus Dur tentang fisikawan Albert Eintein dan model cantik Greta Garbo. “Anekdot ini saya ambil dari buku berjudul Gus Dur hanya Kalah dengan Orang Madura,...
Sabtu, 15 Mei 2021 22:16 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Bunga tabebuya, khususnya yang berwarna kuning, bermekaran lagi di jalanan Kota Surabaya. Bunga berwarna kuning indah itu semakin mempercantik jalanan, terutama jalan protokol pada saat Idul Fitri atau lebaran kali i...
Minggu, 16 Mei 2021 05:46 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Pembela utama korban kerusuhan 13 Mei 1998 adalah Ita Fatia Nadia. Aktivis perempuan ini kenyang teror. Bahkan ia pernah diancam oleh Jenderal Sintong Panjaitan.Ancaman itu dilakukan sang jenderal di Istana. Saat Fatia ...
Minggu, 16 Mei 2021 06:58 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*65. fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaanLalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berika...
Jumat, 14 Mei 2021 10:11 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Won...