Selasa, 27 Oktober 2020 22:32

Mirip Star Wars, Perang Zaman Now: Satelit Pembunuh China dan Rusia, Dekati Satelit Jepang

Kamis, 23 Juli 2020 12:03 WIB
Editor: Choirul
Mirip Star Wars, Perang Zaman Now: Satelit Pembunuh China dan Rusia, Dekati Satelit Jepang
Peluncuran satu satelit di China. foto: repro https://www.scmp.com/

BANGSAONLINE.com – Keberadaan satelit di angkasa raya, untuk penunjang berbagai teknologi, kini dibidik untuk dihancurkan pihak berseteru. China dan Rusia, telah lebih dulu meluncurkan satelit pembunuh di angkasa raya. Satelit pembunuh inilah yang diarahkan untuk menghancurkan satetit-satelit vital milik berbagai negara.

Inteligen di Tokyo mendapat data, bahwa satelit pembunuh milik China dan Rusia telah mendekati orbit satelit Jepang yang befungsi vital untuk lalu lintas data intelijen Jepang. Maka ketegangan Tokyo dengan Beijing dan Moskow meningkat tajam.

"Satelit pembunuh" China dan Rusia terdeteksi mendekati satelit Jepang, menurut sumber pemerintah di Tokyo, meningkatkan kekhawatiran bahwa Beijing dan Moskow mempraktikkan cara untuk menonaktifkan atau menghancurkan sistem yang sangat penting bagi pengumpulan data intelijen dan kemampuan pertahanan Jepang.

Mengutip seorang pejabat tinggi pemerintah di Tokyo, surat kabar Yomiuri melaporkan, Washington khawatir ketika satelit Rusia Cosmos 2542 berulang kali mendekati satelit pengintaian AS awal tahun ini.

Dipercaya bahwa pesawat ruang angkasa Rusia cukup dekat untuk memperoleh rincian fotografi dari satelit AS, sementara itu ditakutkan, ada serangan penghancuran atau membunuh satelit, hanya dengan menggunakan proyekti kecil, tapi langsung mengarah ke komponen vital.

China juga dipahami telah membuat kemajuan signifikan dalam persenjataan luar angkasa, termasuk "satelit pembunuh", rudal atau laser anti-satelit yang diluncurkan di bumi atau darti satelti.

Menghancurkan atau merusak akses Amerika Serikat ke informasi real-time tentang aktivitas musuh akan secara efektif berarti perang angkasa telah dimulai. "China dan Rusia juga melakukan manuver serupa di satelit mereka ke satelit Jepang," kata pejabat Jepang itu kepada Yomiuri.

Cina meluncurkan bagian terakhir sistem Satelit Navigasi BeiDou ke orbit Tiongkok meluncurkan bagian terakhir sistem Satelit Navigasi BeiDou ke orbit

Informasi detil diharapkan datang dari AS, karena Tokyo saat ini tidak memiliki kemampuan untuk memantau kegiatan Beijing atau Moskow di luar angkasa.

Lance Gatling, seorang analis kedirgantaraan yang berbasis di Tokyo, mengatakan "tidak terhindarkan" bahwa kekuatan lain akan mencari cara untuk mengeksploitasi setiap peluang potensial untuk mendapatkan keuntungan militer atau ekonomi. "Setiap negara mempunyai satelit doi ruang angkasa. Jika perang terjadi, entah apa jadinya negara itu, jika peralatan mereka dinonaktifkan," katanya.

“Jika satelit yang dioperasikan adalah satelit pembunuh, dapat bermanuver di dekat satelit AS atau Jepang, tidak ada yang menghentikan mereka.”

"Gangguan utama adalah untuk mendapatkan kendali atas satelit, seperti dengan menjepitnya, sehingga tidak dapat melakukan fungsinya, atau untuk menghancurkannya," katanya. "Atau, itu bisa cukup dekat untuk menembakkan proyektil kecil ke elektroniknya dan membiarkannya mati."

Ini alasan kenapa Jepang pada bulan Mei lalu mendirikan Skuadron Operasi Antariksa, yang saat ini kecil dan di bawah sayap Angkatan Udara, tetapi diperkirakan akan tumbuh dalam skala dan kepentingan di tahun-tahun mendatang.

Skuadron ini akan mengoperasikan kemampuan Space Situational Awareness Jepang, awalnya dalam bentuk sistem radar canggih yang dirancang untuk memantau "satelit pembunuh". Fasilitas ini sedang dibangun di Prefektur Yamaguchi, di ujung barat daya Jepang, dan dijadwalkan akan beroperasi pada 2023. Unit ini juga akan meluncurkan dan mengoperasikan satelit pemantauan di sekitar 2026.

Unit ini berkoordinasi dengan Angkatan Udara AS, yang ingin mengembangkan kemampuan pertahanan ruang multinasional untuk melawan Cina dan Rusia. Jepang dianggap sebagai anggota kunci aliansi itu karena militer AS tidak memiliki instalasi pengawasan darat di wilayah tersebut.

Garren Mulloy, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Daito Bunka dan otoritas tentang masalah pertahanan regional, menunjukkan bahwa satelit dari berbagai negara kadang-kadang saling berdekatan, tetapi, "Jauh lebih mengkhawatirkan untuk melihat pola perilaku, dari satelit berulang kali didekati, oleh satelit Tiongkok atau Rusia. ”

"Saya akan berpikir bahwa China dan Rusia jauh lebih mungkin untuk menargetkan satelit AS, tetapi jika Tokyo dan Washington akan bekerja sama lebih dekat, itu akan menjelaskannya," katanya. "Untuk Jepang dan AS, jika mereka dapat menemukan cara berkomunikasi dan bekerja sama lebih baik di luar angkasa, maka itu akan menjadi situasi yang saling menguntungkan bagi mereka berdua."

Sumber: https://www.scmp.com/
Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Minggu, 25 Oktober 2020 12:28 WIB
SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Wisata edukasi berbasis potensi desa di Jawa Timur kembali bertambah. Kali ini, bertempat di Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan Are...
Senin, 12 Oktober 2020 19:15 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan --- Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) minta para kepala daerah meniru Jawa Timur dan Sulawesi Selatan dalam menangani Covid-19. Dua provinsi tersebut – menurut Jokowi - mampu menekan angka kasus Covid-19."Saya mencata...
Kamis, 22 Oktober 2020 10:40 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*34. wakaana lahu tsamarun faqaala lishaahibihi wahuwa yuhaawiruhu anaa aktsaru minka maalan wa-a’azzu nafaraandan dia memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-ca...
Selasa, 27 Oktober 2020 09:45 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&l...