Kamis, 09 Juli 2020 21:35

​Bantu Kiai Asep, Polisi-TNI Masuk Gang-gang Sempit Bagikan Beras dan Uang

Jumat, 22 Mei 2020 14:53 WIB
Editor: MMA
​Bantu Kiai Asep, Polisi-TNI Masuk Gang-gang Sempit Bagikan Beras dan Uang
Salah satu aparat polisi sedang membagikan beras per orang 5 kg dan uang Rp 50 ribu sedekah dari Kiai Asep Saifuddin Chalim, kepada warga Siwalankerto Utara Surabaya, Jumat (22/5/2020). foto: MMA/ BANGSAONLINE.COM

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Jalan Siwalanketo Utara Surabaya, kawasan Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, tiba-tiba penuh aparat kepolisian dan TNI. Banyak warga bertanya-tanya ada apa gerangan?

Ternyata para aparat kepolisian dan TNI dari Polsek dan Kodim setempat sedang membantu Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.Ag. Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah itu sedang membagi 60.000 paket beras (perorang 5 kg), 40.000 sarung, dan uang per orang Rp 50 ribu.

Sedekah ini, selain untuk membantu para relawan penanganan covid-19 dan warga terdampak secara sosial ekonomi virus corona, juga sedekah rutin menjelang Idul Fitri 1441 H. 

“Yang 1.000 paket saya bagikan di sekitar pondok ini,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim kepada BANGSAONLINE.com, Jumat (22/5/2020). Yang lain, disebar di Mojokerto.

Nah, aparat polisi dan TNI yang terdiri dari para Bhabinkamtibnas dan Babinsa itu membantu membagikan sedekah Kiai Asep tersebut. Yaitu berupa 5 kilo beras dan uang Rp 50 ribu. Yang menarik, sambil membawa gerobak yang didorong relawan, para aparat itu masuk ke gang-gang kecil dan sempit di kampung Siwalankerto.

(Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA bersama aparat kepolisian dan TNI di ruang tamu kediamannya di Jalan Siwalankerto Surabaya, Jumat (22/5/2020). foto: MMA/BANGSAONLINE.com) 

“Assalamualaikum,” kata mereka sambil mengetok pintu warga. Begitu penghuni rumah muncul mereka langsung memberikan beras dan uang. “Ini dari Kiai Asep,” kata petugas itu menjelaskan. Mereka lalu pindah ke rumah lain.

Ada juga satu rumah, tapi dihuni beberapa kepala keluarga (KK). Otomatis aparat itu kembali lagi mengambil beras dari gerobak untuk diberikan kepada warga yang menunggu di depan pintu.

Kepada BANGSAONLINE.com, Kiai Asep Saifuddin Chalim menjelaskan tentang sejarah kampung Siwalankerto Utara Surabaya itu. “Kampung ini dulu kampung pejudi. Ndak tahulah. Kalau malam hari (mereka) juga minum-minum (minuman keras-Red). Dan memusuhi saya. Sampai saya mendatangkan Banser,” kata Kiai Asep Saifddin Chalim di kediamannya di tengah-tengah mengomando pembagian beras, sarung, dan uang.

Ternyata makin lama, perilaku maksiat mereka makin menjadi-jadi. “Saya membiarkan saja. Saya membiarkan,” kata Kiai Asep . Tapi Kiai Asep tetap peduli dan memperhatikan mereka. “Kalau saya habis pengajian, berkat saya berikan mereka,” kata Kiai Asep.

Selain itu, Kiai Asep juga mengadakan kegiatan sosial yang membantu mereka. “Pemuda-pemuda saya berikan kaos,” ungkap Ketua umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

Bukan hanya itu. Kiai Asep juga menyantuni para janda, fakir miskin. “Ya tidak banyak. Para janda itu kita kasih Rp 300 ribu tiap orang,” katanya. Kebiasaan menyantuni para janda ini terus dilakukan Kiai Asep hingga sekarang. Pantauan BANGSAONLINE.com, Jumat hari ini, Kiai Asep selain membagikan beras ke kampung-kampung, juga membagikan uang Rp 300 ribu kepada para janda. Pembagian uang untuk para janda di-handle salah satu putrinya, Neng Zahroh.

Nah, dari aksi-aksi sosial yang istiqamah itu, akhirnya warga Siwalankerto mulai berubah. Banyak mereka yang kemudian berperilaku baik. “Ternyata kadang-kadang dakwah bil-hal (tindak nyata), dengan memperhatikan kebutuhan mereka, dapat seperti itu (berubah menjadi baik-Red),” kata Kiai Asep.

Memang, kata Kiai Asep, masih ada beberapa orang yang masih tetap berperilaku tidak baik. Tapi yang dominan adalah orang-orang yang baik. “Tapi yang mendukung saya dan pondok pesantren lebih dominan,” kata Kiai Asep.

Bahkan ada seorang yang semula sangat anti Kiai Asep, tapi ketika menjelang meninggal ia malah menjadi pendukung setia Kiai Asep. “Dia seorang angkatan laut. Namanya Pak Pur. Dia kemudian menjadi orang paling setia kepada saya,” kata Kiai Asep.

Kiai Asep juga mencontohkan dakwah bil-hal di Kembangbelor. Yang dimaksud Kembangbelor adalah kampung di Pacet Mojoketo yang kini menjadi area Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang didirikan Kiai Asep. Pondok pesantren ini sangat besar dan kini memiliki 8.000 santri.

“Di Kembangbelor juga begitu. Dulu, tak ada orang salat,” kata Kiai Asep. Bahkan musala di kawasan kampung ini banyak tahi ayamnya. Karena tak pernah dipakai untuk salat. Tapi setelah Kiai Asep mendirikan Pondok Pesantren Amanatul Ummah, kini mayoritas salat. “Sekarang 99 persen orang di Kembangbelor salat,” tuturnya.

Padahal, kata Kiai Asep, tak ada orang berdakwah di kawasan ini. Hanya saja mereka oleh Kiai Asep diberdayakan secara ekonomi. Ada yang dijadikan tukang bangunan, diberi pekerjaan laundry dan sebagainya. Jadi, kata Kiai Asep, dakwah bil-hal itu kadang jauh lebih efektif.

Menurut Kiai Asep, status sosial-ekonomi pendakwah sangat menentukan. Artinya, seorang pendakwah yang secara ekonomi kurang mampu, kadang tak dihiraukan oleh masyarakat. Beda dengan pendakwah yang kaya. Karena masyarakat juga butuh sentuhan ekonomi. Nah, setelah kebutuhan materi mereka diperhatikan, barulah dakwah billisan itu efektif dan dibutuhkan. (MMA)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 11 Maret 2020 22:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Keindahan alam di Jawa Timur adalah potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya, Taman Wisata Genilangit di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa datang langsung ke ikon wisata di...
Rabu, 01 Juli 2020 18:44 WIB
Oleh Fandi Akhmad Yani (Gus Yani)*Kring... Kring.. Kring.. "Hallo Pak Ketua". Terdengar suara lirih dari depan kantor DPRD Gresik saat saya keluar dari kantor. Adalah Mbah Amang Genggong. Sudah menjadi kebiasaannya setiap kali melintas di depan ged...
Rabu, 24 Juni 2020 23:47 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Jumat, 03 Juli 2020 22:23 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat...