Menko Polkam Djamari Chaniago: Siapa Santri Amanatul Ummah yang Ingin Jadi Presiden

Menko Polkam Djamari Chaniago: Siapa Santri Amanatul Ummah yang Ingin Jadi Presiden Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago saat berada di tengah-tengah para santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Foto: M. Mas'ud Adnan

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com – Usia boleh tua. Tapi semangat harus tetap membara. Itulah yang tampak pada penampilan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan () Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago di depan ribuan santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026) siang.

Djamari yang mengaku sebagai menteri tertua dalam kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto - berusia 77 tahun - tampil interaktif dan dinamis ketika Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, mempersilakan untuk memberi motivasi para santri yang diasuhnya.

Kiai Asep memang berharap Djamari Chaniago bisa menjadi inspirasi bagi para ribuan santrinya.

“Agar ketularan jadi jenderal-jenderal,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto dalam mengawali sambutannya.

Tak disangka. Djamari Chaniago langsung berdiri. Pria berpostur tinggi itu menuju ke tengah-tengah para santri yang duduk lesehan memenuhi Masjid Raya KH Abdul Chalim. Masjid yang terdiri dari dua lantai itu penuh dengan ribuan santri. Santri putra berada di barisan depan, sedang santri putri berada di barisan belakang dan lantai dua.

DARI KIRI: Dr H Afif Zamroni, Staf Khusus Menteri Desa dan PDT, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA,  Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, Bupati Mojokerto Dr H Muhammad Al Barra (Gus Bara) dan KH Akhmad Jazuli, Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur. Foto: M. Mas'ud Adnan/bangsaonline.

Djamari Chaniago tak mau tampil monolog. Ia menyapa para santri dengan beragam pertanyaan.

“Siapa yang dari Aceh,” tanya mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) itu. Beberapa santri langsung mengacungkan tangan.

“Ada yang dari Papua,” tanya Djamari lagi.

Seorang santri putri mengacungkan tangan.

Djamari memanggil santri asal Papua tersebut. Santri putri itu mengaku dari Sorong Papua Barat.

Djamari kemudian menyerahkan amplop berwarna putih berisi uang yang disiapkan ajudannya.

Djamari terus bergerak.“Siapa yang ingin jadi petinju,” tanya Djamari lagi. “Siapa yang ingin jadi ,” tambahnya.

Yang menarik, ketika Djamari bertanya siapa yang ingin jadi . Seorang santri berkulit hitam mengacung. Ia langsung dipanggil oleh Djamari. Karena tampak malu-malu, Djamari minta santri itu tegas jika ingin jadi . Lagi-lagi kemudian memberi tersebut amplop putih.

Kiai Asep, yang menyaksikan dialog interaktif para santrinya dengan Djamari Chaniago tampak tertawa.

Djamari minta para santri giat belajar sekaligus bersyukur. “Kalian harus bangga bisa sekolah di sini. Karena sekolah ini sekolah terbaik,” ujar mantan Pangdam III/Siliwangi Jawa Barat itu.

Ia juga berpesan kepada para santri agar bersikap tegas dan tidak nanggung.

“Kalau ingin jadi ulama jangan tanggung-tanggung. Tegas saja, saya ingin menjadi Imam Besar Masjidil Haram,” tegas jenderal kelahiran Padang Sumatera Barat 8 April 1949 itu.

Kiai Asep tampak sangat senang mendapat kunjungan Menko Polkam Djamari Chaniago. Ia berharap para santrinya termotivasi dan terinspirasi sehingga banyak santrnya yang menjadi ulama, pemimpin, konglomerat dan professional. Termasuk menjadi jenderal.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO