Bupati Jember Faida saat menggelar konferensi pers di Pendapa Wahyawibawagraha, Rabu (1/4/2020) siang.
"Sehingga bagi orang-orang yang berada di lapangan seperti halnya bupati, wabup, ataupun jajaran Forkopimda lainnya, secara tidak langsung statusnya bisa jadi ODP. Tapi kita (Forkopimda) kan tidak keluar masuk dari Kabupaten Jember. Jadi karena berada di wilayah sendiri, ya aman-aman saja. Apalagi jadi pemimpin (kepala daerah) ada risikonya. Saya, Pak Dandim, Pak Kapolres, mau tidak mau harus berada di tengah masyarakat," ungkapnya.
Apakah perlu pengecekan kesehatan bagi bupati dan wabup ataupun jajaran Forkopimda lainnya? Menurut bupati wanita pertama di Jember ini tidak perlu.
"Cukup dengan menaati aturan yang sudah disosialisasikan. Seperti halnya jaga jarak, pakai masker, cuci tangan setiap keluar masuk mobil, atau datang (ke lokasi tujuan) di (semprot) disinfektan, dan terakhir menyerahkan pasrah kepada Allah SWT, usaha tidur cepat (istirahat cukup), itu saja yang dilakukan," tuturnya.
"Minum vitamin, saling mengingatkan (untuk jaga stamina) itu yang kita lakukan (antar) Forkopimda, termasuk Pak Wabup," sambungnya.
Jika merasa kurang sehat, kata Faida, pihaknya juga akan segera berhenti berkegiatan. "Sejauh ini kondisi kita (bupati, wabup, dan jajaran Forkopimda) cukup baik, dan saya optimis, pengetatan aturan dilakukan dan masyarakat mendukung, semakin cepat mengakhiri situasi ini," tandasnya.
Konferensi pers itu juga dihadiri Wakil Bupati Abdul Muqit Arief bersama jajaran Forkopimda lainnya, di antaranya Dandim 0824 Jember Letkol (Inf) La Ode Muhammad Nurdin. (ata/yud)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




