Hiasan di Jembatan Semanggi yang diprotes puluhan pengunjuk rasa. Hiasan itu menghabiskan anggaran hingga Rp 4,4 miliar.
Diketahui olehnya, terkait pengalihan anggaran sudah pernah disampaikan melalui pernyataan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten M Fauzi saat pembahasan anggaran pada bulan Agustus 2019 silam. Menurutnya, hal ini bentuk kebijakan yang tidak adil.
"Nasib hajat hidup ribuan buruh diabaikan. Justru anggaran dihamburkan untuk hal tidak penting," tegasnya.
Menurut Dwi, anggaran penyertaan modal sifatnya lebih penting dibandingkan menghias jembatan. Pasalnya, Direktur Utama PDP Kahyangan Harianto pernah menjelaskan, anggaran penyertaan modal dibutuhkan untuk perpanjangan masa izin hak guna usaha.
"Sangat butuh, karena tahun 2019 bakal habis masa berlakunya HGU beberapa kebun PDP," katanya. Jika tidak diperpanjang, maka PDP tidak bisa melakukan kegiatan usaha perkebunan maupun produksinya.
"Jika habis masa HGU, tanahnya bisa diambil lagi oleh Negara. Dampaknya tentu pada ribuan buruh yang tidak bekerja lagi," ulasnya.
Selain alasan pengalihan anggaran, tuntutan buruh itu juga karena kontraktor penggarap proyek hiasan jembatan diduga melakukan perusakan papan reklame milik CV Berkat Jaya yang berada di Jembatan Semanggi.
Ketua Komisi C David Handoko Seto mengatakan, pihaknya masih berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk menghentikan proyek. "Kami telepon langsung Kapolres Jember untuk didengar langsung, apakah bisa di-police line," tandasnya. (jbr1/yud)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




