Rabu, 01 April 2020 10:57

​Dakwah di Tengah Masyarakat Plural, Dr. KH. Fadholan Musyafak Ingatkan Kejahatan Medsos

Kamis, 22 Agustus 2019 12:52 WIB
Editor: Em Mas'ud Adnan
Wartawan: tim
​Dakwah di Tengah Masyarakat Plural, Dr. KH. Fadholan Musyafak Ingatkan Kejahatan Medsos
Dr KH Fadlolan Musyafak (kiri) bersama KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) saat masih hidup. foto: istimewa

SEMARANG, BANGSAONLINE.com - Dr. KH. Fadlolan Musyafak, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Jawa Tengah menegaskan bahwa dakwah hendaknya disampaikan dengan bijaksana, tutur kata santun, dan nasehat yang baik. Menurut dosen Pascasarjana UIN Walisongo Semarang itu, Allah SWT telah memberi metode dakwah kepada Rasulullah SAW agar memakai tutur kata yang lembut. Apalagi dalam masyarakat plural.

“Dakwah tidak boleh memaki dan menyalahkan agama lain di depan umum,” kata Kiai Fadlolan Musyafak kepada BANGSAONLINE.com, Kamis (22/8/2019). Kiai Fadlolan Musyafak menyampaikan itu menjawab pertanyaan BANGSAONLINE.com tentang koridor dakwah di tengah masyarakat plural dan kebhinnekaan.

Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Semarang itu mengatakan bahwa Rasulullah dalam berdakwah sangat santun dan lembut. “Sekira Rasulullah keras dan bengis serta keras hati, maka kaumnya akan pada berlari meninggalkannya,” kata Kiai Fadlolan yang alumnus Unversitas Al Azhar Kairo Mesir.

Menurut dia, dakwah itu menyeru, mengajak dan meluruskan yang salah pada kebenaran serta kebaikan.

Namun Kiai Fadlolan mengingatkan bahwa dakwah dalam Islam tidak mengenal batas, karena menyeru kepada semua alam semesta. Kiai muda ini menyitir surat an-Nahl ayat 125, Ud’u ila sabili rabbika bil hikmah wal mau’idhatil hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan, yang artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Menurut dia, ayat Ud'u ila sabili Rabbika" itu tidak ditentukan obyek mad'u atau orang yang didakwahi. “Bisa umat seagama dan bisa juga beda agama. Loh, apakah tidak menyinggung? ya pasti yang tidak cocok akan tersinggung, sekalipun yang disampaikan itu benar dan hak menurut agama Islam. Maka ada etika dakwah di masyarakat yang plural, agar tidak memaki-maki agama lain, dan tidak menyalahkan agama lain di muka umum dalam bingkai NKRI,” kata Kiai Fadlolan.

Ini beda dengan para pemuka agama yang mendoktrin umatnya di internal mereka. “Sekalipun memberikan contoh agama lain dianggap salah ya boleh, bahkan sudah sewajarnya, dan ini berlaku di seluruh belahan dunia sejak zaman dahulu,” katanya.

Jadi, menurut Kiai Fadlolan, etika inilah yang harus dijaga oleh setiap da'i dan para mubaligh. “Muballigh harus bisa membedakan antara materi doktrin yang hanya disampaikan pada umat seagama dengan materi yang disampaikan di tempat umum,” katanya.

Ia minta, jangan sampai materi doktrin ketuhanan yang sensitif disampaikan di depan umum. Ia mencontohkan doktrin bahwa dalam Islam tidak mengakui Tuhan trinitas karena dianggap syirik (menyekutukan Tuhan). Begitu juga ayat yang berbunyi: Sesungguhanya hanya agama Islam yang benar menurut Allah.

Apalagi, kata dia, sekarang era media sosial (medsos) yang sangat jahat, sering provokatif dan tidak bertanggung jawab. “Kadang merekam dokumen doktrin lalu diunggah ke medsos umum. Akibatnya, menyinggung umat lain,” katanya. (tim) 

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 11 Maret 2020 22:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Keindahan alam di Jawa Timur adalah potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya, Taman Wisata Genilangit di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa datang langsung ke ikon wisata di...
Sabtu, 28 Maret 2020 14:13 WIB
Oleh: M Cholil NafisSaat saya wawancara di TV atau radio banyak pertanyaan tentang hadits yang menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan jum’atan tiga kali berturut-turut jadi keras hatinya bahkan ada yang menyebut kafir dan wajib bersyahadat kemba...
Sabtu, 28 Maret 2020 23:26 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*85. Wayas-aluunaka ‘ani alrruuhi quli alrruuhu min amri rabbii wamaa uutiitum mina al’ilmi illaa qaliilaan.Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku,...
Jumat, 20 Maret 2020 00:31 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, MA. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&...