Senin, 19 Agustus 2019 13:35

Tafsir Al-Isra’ 36: Al-Imam Dawud Al-Dzahiry

Jumat, 19 April 2019 22:28 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Isra’ 36: Al-Imam Dawud Al-Dzahiry
Ilustrasi

Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag

36. Walaa taqfu maa laysa laka bihi ‘ilmun inna alssam’a waalbashara waalfu-aada kullu ulaa-ika kaana ‘anhu mas-uulaan

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

“Walaa taqfu maa laysa laka bihi ‘ilm ...”. Ayat studi ini memberi peringatan keras terhadap para akademisi, kaum intelektual, para ilmuwan agar tahu batasan dan membatasi diri terhadap kerja nalarnya. Tidaklah mentang-mentang diberi akal sehat, mentang-mentang ada perintah bernalar, perintah berpikir produktif, dan lain-lain, lalu bebas menggunakan nalar. Semua itu tidak berarti tanpa cost, melainkan dipertanggungjawabkan.

Bagi al-Dzahiry, ayat ini mengisyaratkan larangan menggunakan qiyas sebagai pijakan dalam menetapkan hukum. Jadi, hukum islam atau syari’ah itu ya terbatas pada apa yang sudah ditera oleh Syari’, al-qur’an atau al-Hadis saja. Yang tidak tertera, maka tidak termasuk dan tidak boleh dimasuk-masukkan, dianalogikan, disamakan, atau diqiyaskan. Walaa taqfu maa laysa laka bihi ‘ilm. Jangan sok tahu, berkomentar terhadap apa-apa yang anda tidak tahu. Bagi Dawud, qiyas itu sama halnya dengan mengada-ada atas hukum sesuatu yang memang oleh Allah sengaja tidak dibahas. Tujuannya untuk memberi kejembaran, keleluasaan bagi hamba-Nya.

Dawud adalah seorang ilmuwan besar, bukan bodoh, dan bukan tumpul otaknya, melainkan memilih pola pikir, bahwa hukum syari’ah itu harus berdasar nash, bukan hasil rekayasa akal seenaknya. Jadi, jika anjing (al-kalb) tidak disebut dalam ayat pengharaman mengomsumsi hewan, maka anjing hukumnya halal. Jika babi tidak disebut dalam kenajisan binatang, maka babi tidak najis. Tidak bisa disamakan dengan kenajisan anjing, karena anjing bukan babi, dan babi bukan anjing. Masing-masing punya hukum sendiri-sendiri yang sudah ditegaskan oleh al-Syari’.

Tentu saja pola pikir macam ini tidak diterima oleh ulama pengguna qiyas sebagai dasar hukum. Mereka berdalil beberapa ayat al-Qur’an yang nadanya perintah bernalar dan bercerdas-cerdas, termasuk di dalamnya berqiyas. Nalar qiyas dianggap lebih melebarkan hukum hingga luwes.

Jadinya, dengan pola qiyas, anjing itu haram dimakan karena diidentikkan dengan babi. Tapi dengan hanya melihat dhahir ayat, maka anjing itu halal dikonsumsi karena tidak disebut dalam ayat al-qur’an. Allah a’lam.

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Jumat, 09 Agustus 2019 19:52 WIB
KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Kediri memiliki destinasi wisata baru bernama Dewi Cemara. Obyek wisata berbasis pertanian dan peternakan di Desa Kedung Malang, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri ini telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur...
Minggu, 11 Agustus 2019 17:36 WIB
Oleh: Em Mas’ud AdnanPeta politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Kota Surabaya kembali berubah. Awalnya ada tiga kekuatan kubu politik di internal PDIP Kota Surabaya. Kubu Wihsnu Sakti Buana (wakil wali kota Surabaya), Bambang...
Senin, 19 Agustus 2019 01:09 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag58. wa-in min qaryatin illaa nahnu muhlikuuhaa qabla yawmi alqiyaamati aw mu’adzdzibuuhaa ‘adzaaban syadiidan kaana dzaalika fii alkitaabi masthuuraanDan tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduk...
Sabtu, 17 Agustus 2019 11:29 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...