Sabtu, 15 Desember 2018 03:38

Dandim Pacitan: Generasi Muda Harus Paham ATHG

Kamis, 11 Oktober 2018 15:25 WIB
Editor: Revol Afkar
Wartawan: Yuniardi Sutondo
Dandim Pacitan: Generasi Muda Harus Paham ATHG
Dandim Pacitan Letkol (kav) Aristoteles Hekeng Nusa Lawitang saat memberikan materi seminar kebangsaan.

PACITAN, BANGSAONLINE.com - Pemuda merupakan pelopor persatuan di tengah arus tantangan zaman. Pernyataan tersebut seperti diungkapkan Komandan Kodim (Dandim) 0801 Pacitan, Letkol (kav) Aristoteles Hekeng Nusa Lawitang, saat memberikan materi dalam kegiatan seminar kebangsaan di gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pacitan, Kamis (11/10).

"Diharapkan dengan adanya kegiatan seminar kebangsaan ini dapat memberikan pemahaman dan wawasan kita sebagai generasi muda tentang AGHT (Ancaman Gangguan Hambatan dan Tantangan) yang ada saat ini," ujarnya.

Dalam seminar tersebut, Dandim mengajak generasi muda turut mewaspadai kemungkinan adanya ancaman dan rongrongan dari luar dan dari dalam. "Dan yang tak kalah pentingnya, tetap jaga persatuan dan kesatuan bangsa demi tetap utuh dan kokohnya kedaulatan NKRI," pesan Perwira Menengah TNI ini.

"Sebagai generasi muda harus mampu meneruskan semangat dan perjuangan para pahlawan. Mereka mampu melampaui tantangan di zamannya. Meskipun saat itu pendahulu kita tanpa dilengkapi dengan teknologi yang canggih seperti saat ini. Jangan takut untuk mencoba dan bereksperimen. Salah itu biasa, tetapi bagaimana kita memperbaiki kesalahan untuk kebaikan di masa depan.Tanpa salah, tidak akan pernah tahu menjadi benar. Tantangan generasi saat ini lebih berat dari generasi lalu. Jangan anggap remeh dirimu, lakukan yang terbaik. Kalau anak muda tidak punya tantangan dan idealisme, maka Indonesia dan Pacitan akan begini saja. Kebudayaan akan punah karena para pemudanya tidak mampu menjawab tantangan yang ada," beber Dandim Aris.

Sementara itu, Suharyanto Kepala Bakesbangpol Pacitan, menambahkan paparan tentang tergerusnya nilai-nilai kebangsaan pada generasi muda. "Anak-anak muda lebih bangga menggunakan bahasa asing dan kebarat-baratan daripada bahasa Indonesia yang jelas-jelas sebagai bahasa pemersatu bangsa. Menguatnya primordialisne sehingga menganggap kelompok lain tidak penting yang mengakibatkan sering terjadinya gesekan atau bentrokan dengan kelompok lain," tandasnya. (yun/rev)

Rabu, 12 Desember 2018 12:08 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*BANJIR menerjang lalu menggenangi jalanan di Malang, kawasan Lowokwaru maupun Jl. Ahmad Yani dengan sengsara kemacetan sampai di Jalan Soekarno Hatta dan Soenandar Priyosoedarmo. Begitulah yang ramai diberitakan banyak media dan ...
Senin, 03 Desember 2018 14:30 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .  Waja’alnaa allayla waalnnahaara aayatayni famahawnaa aayata allayli waja’alnaa aayata alnnahaari mubshiratan litabtaghuu fadhlan min rabbikum walita’lamuu ‘adada alssiniina waalhisaaba wak...
Sabtu, 10 November 2018 10:00 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...