Lia Istifhama, Anggota DPD RI.
MALANG, BANGSAONLINE.com – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyampaikan apresiasi atas pernyataan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang menegaskan kontribusi besar Nahdlatul Ulama dalam membangun peradaban bangsa Indonesia selama satu abad perjalanan organisasi tersebut.
Apresiasi tersebut disampaikan Lia Istifhama usai menghadiri Mujahadah Kubro dalam rangka peringatan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu (8/2/2026).
Momentum spiritual yang berlangsung khidmat itu menjadi refleksi perjalanan panjang NU dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara.
Lia Istifhama menilai, pandangan yang disampaikan Khofifah memperkuat pengakuan atas peran strategis NU yang selama ini menjadi garda terdepan dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan menjunjung tinggi nilai kebangsaan.
Ia menuturkan bahwa kiprah NU tidak hanya berfokus pada dakwah keagamaan, tetapi juga berkontribusi nyata dalam membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan berbasis pesantren yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa.
Pesantren NU jadi Fondasi Pendidikan dan Karakter Bangsa
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebelumnya menegaskan bahwa NU yang berdiri sejak tahun 1926 memiliki peran penting dalam pembangunan nasional, khususnya melalui penguatan sektor pendidikan berbasis pesantren.
Menurut Khofifah, pesantren telah menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya menanamkan ilmu agama, tetapi juga memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan umum. Lingkungan pesantren dinilai mampu membentuk generasi yang memiliki ketangguhan mental, sikap moderat, serta kemampuan beradaptasi di tengah dinamika kehidupan masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Lia Istifhama menyampaikan bahwa keberadaan pesantren selama ini telah menjadi laboratorium sosial yang membentuk karakter generasi muda Indonesia. Ia menilai pesantren di bawah naungan NU memiliki kontribusi besar dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan kepedulian sosial.
Lia menegaskan bahwa nilai-nilai yang diajarkan pesantren menjadi fondasi kuat dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman budaya dan latar belakang masyarakat Indonesia.
NU Menjadi Rumah Besar Umat dan Penjaga Moderasi Beragama
Khofifah juga menyoroti peran NU sebagai organisasi keagamaan yang mampu menjadi rumah besar umat dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, maupun budaya. NU dinilai konsisten menghadirkan dakwah yang menyejukkan serta mengedepankan prinsip Islam moderat.
Dalam pandangan Lia Istifhama, semangat moderasi beragama yang terus dijaga NU menjadi kekuatan penting dalam merawat harmoni sosial di Indonesia.
Ia menilai NU berhasil menanamkan nilai keislaman yang inklusif serta mampu merangkul berbagai elemen masyarakat tanpa meninggalkan akar tradisi.
Lia menambahkan bahwa NU telah membuktikan diri sebagai organisasi yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan kemajuan zaman. Ia menilai sikap terbuka NU terhadap perkembangan sosial dan teknologi menjadi modal penting dalam menjaga relevansi organisasi di era modern.
Harlah Satu Abad NU Jadi Momentum Melanjutkan Perjuangan Ulama
Peringatan Mujahadah Kubro Harlah 1 Abad NU yang mengacu pada kalender masehi dinilai sebagai momentum reflektif untuk melanjutkan perjuangan para pendiri organisasi.
Khofifah menyebut NU sebagai kekuatan strategis yang terus berperan dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat persatuan bangsa.
Lia Istifhama menegaskan bahwa perjalanan satu abad NU menjadi bukti nyata konsistensi organisasi dalam mengawal nilai kebangsaan dan keagamaan secara seimbang. Ia berharap NU terus menjadi pilar moral sekaligus mitra strategis pemerintah dalam membangun Indonesia yang damai dan berkeadaban.
Menurut Lia, keberlanjutan peran NU sangat penting dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Ia optimistis NU akan terus menjadi kekuatan pemersatu bangsa yang mampu menghadirkan nilai Islam rahmatan lil alamin dalam kehidupan masyarakat Indonesia.








