Senin, 19 November 2018 04:45

Tafsir Al-Isra 7: Syari'ah Islam di Rumah Sakit

Kamis, 16 Agustus 2018 17:26 WIB
Editor: Redaksi
Wartawan: --
Tafsir Al-Isra 7: Syari
Ilustrasi: Rumah Sakit (RS) Islam Sultan Agung Semarang, Penerima Sertifikasi Syariah MUKISI. foto: RSI Sultan Agung.

Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   

In ahsantum ahsantum li-anfusikum wa-in asa'tum falahaa fa-idzaa jaa-a wa’du al-aakhirati liyasuu-uu wujuuhakum waliyadkhuluu almasjida kamaa dakhaluuhu awwala marratin waliyutabbiruu maa ‘alaw tatbiiraan (7).

Kasus seorang asisten dokter anestesi yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap seorang pasien wanita bisa dikomentari dari berbagai sisi. Kajian tafsir ini tertarik menyorot dari perspektif syariah islam yang rujukannya wahyu, Kitabullah wa Sunnah Rasulih.

Seperti diunggah dalam berita, bahwa si asisten dokter terang-terangan mengaku terangsang ketika melihat sebagian tubuh si pasien yang gemulai dan terbuka saat selesai operasi. Kemudian spontan melampiaskan isengnya yang tidak terpuji. Kita ambil hikmahnya.

Bahwa, apapun dalihnya, hubungan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram itu wajib diatur. Persinggungan lawan jenis ini telah diatur secara sempurna oleh syariah Islam, detail, dan bagus, meliputi ruang, sosok pelaku, batasan, keperluan, dan lain-lain.

Pertama, keperluan. Tanpa ada keperluan primer, pria dan wanita bukan mahram dilarang bersinggungan. Sekadar berada di tempat sepi, meski tidak melakukan apa-apa, meski sama-sama menyimak layar HP masing-masing, tanpa berdekatan, tanpa persinggungan, tanpa tegur sapa, dilarang oleh agama. Persoalan bukan pada apa-apa dan tidak apa-apa, melainkan lebih kepada tindakan preventif dan jaga-jaga. Dalam syari'ah, inilah yang disebut, "sadd al-dzari'ah".

Tetapi bila ada keperluan primer, seperti dokter mengobati pasien, guru mengajar muridnya, pelaku transaksi jual beli oleh pria dan wanita, maka dibolehkan melihat aurat seperlunya, secukupnya sesuai disiplin masing-masing.

Dokter kandungan yang sedang melakukan tindakan medis terhadap pasien wanita, di mana dia harus membuka vaginanya, maka dibolehkan sebatas keperluan. Sudah selesai, ya sudah dan harus segera dirapikan kembali dan segera ditinggalkan. Sedikit saja sang dokter genit dan menikmati, seperti perabaan daerah vagina dengan sentuhan khusus, non sentuhan medis, maka ya sesedikit itu dosanya.

Pembolehan tersebut tidak mutlak, melainkan sifatnya darurat. Artinya, jika ada dokter kandungan wanita yang mumpuni dan memungkinkan, maka diutamakan dokter wanita yang menangani. Begitu pula, pasien pria yang konsultasi soal kelamin, maka diutamakan dokter pria yang menangani. Jika antara dokter dan pasien berbeda jenis, maka harus ada mahram pendamping, seperti suami atau keluarga. Hal ini demi kebaikan menyeluruh dan mencegah timbulnya fitnah.

Untuk itu, akan lebih bagus jika rumah sakit memperhatikan penugasan dokter, asisten maupun perawat disesuaikan dengan kebutuhan medik dan asas kemaslahatan agama. Atau sedikit longgar tanpa menodai etika medis terkait keluarga yang jaga. Sekiranya satu orang saja dari keluarga diizinkan selalu mendampingin pasien, itu sungguh maslahah dan bisa mencegah hal yang tidak pantas.

Keterlanjuran si asisten dokter hingga melakukan tindakan seksual kepada pasien wanita tersebut memang salah, tetapi tidak bijak jika kesalahan itu ditimpakan mutlak kepada dia seorang. Jika wanita itu dalam keadaan sadar, maka wajib baginya cepat-cepat menutupi auratnya. Atau pihak keluarga cepat masuk dan mendampingi. Yang jelas, kejahatan itu terjadi bukan karena murni dia penjahat, melainkan sering kali karena ada kesempatan berbuat jahat. 

Sumber: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Rabu, 14 November 2018 00:10 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*SUASANA khusuk menyelimuti Jumat malam 9 November 2018 di lorong-lorong kampung, di ruas-ruas musholla, di beranda-beranda langgar, di ruang-ruang masjid, surau ataupun gardu desa. Rakyat membaca doa dengan selingan renungan tent...
Minggu, 18 November 2018 03:20 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   Wayad’u al-insaanu bialsysyarri du’aa-ahu bialkhayri wakaana al-insaanu ‘ajuulaan (11).Ayat studi ini mengingatkan, betapa watak dasar manusia itu tak sabaran, maunya segera terwujud ap...
Sabtu, 10 November 2018 10:00 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Selasa, 06 November 2018 22:28 WIB
MADIUN, BANGSAONLINE.com - Dua tahun terakhir Kabupaten Madiun mendapatkan penghargaan Anugerah Wisata Tingkat Provinsi Jawa Timur. Pertama anugerah wisata buatan terbaik provinsi diraih Taman Wisata Madiun Umbul Square tahun 2017, menyusul kemudian ...