Rabu, 19 Juni 2019 06:50

Mengenal Sentono Gentong, Tempat Singgah Ulama Kalingga Selatan di Pacitan

Sabtu, 05 Mei 2018 14:04 WIB
Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: Yuniardi Sutondo
Mengenal Sentono Gentong, Tempat Singgah Ulama Kalingga Selatan di Pacitan
Wisata Sentono Gentong yang saat ini tengah dikembangkan Pemdes Dadapan.

PACITAN, BANGSAONLINE.com - Dikembangkannya destinasi wisata Sentono Gentong di Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan semakin memperkuat kebenaran fakta sejarah yang menyatakan kalau Pacitan adalah tonggak awal berdirinya Pulau Jawa. Hal itu ditandai adanya paku bumi yang pernah ditancapkan sejumlah ulama kondang dari Kalingga Selatan. Sambil berdagang, rombongan saudagar dari India di bawah kendali Syeh Subakir itu juga berkesempatan melakukan syiar agama Islam.

Menurut pelaku sejarah di Pacitan, Ki Ageng (KA) Songgo Samudro Sentono Gentong merupakan salah satu situs sejarah Islam di Pulau Jawa. Dalam buku kuno yang sempat ia baca, kala itu rombongan pedagang dari Kalingga Selatan (India selatan) sempat berlayar menuju pantai selatan. Mereka sempat singgah di sebuah wilayah yang disebut Wengker Kidul.

"Sebab secara administratif, nama Pacitan belum ada. Kala itu masih menginduk di Wengker (sekarang Kabupaten Ponorogo). Pacitan kala itu dikenal dengan sebutan Wengker wilayah kidul," tuturnya, Sabtu (5/5).

Fakta sejarah lain yang memperkuat adanya intervensi ulama asal India di Pacitan, yaitu adanya makam seorang punggawa kerajaan yang diduga kuat berasal dari Kalingga bernama Buwono Keling. Dia penganut Hindu, dan memiliki ilmu sakti Ponco Sono.

"Saat itu sempat pecah peperangan antara ulama dengan punggawa yang dikenal sakti itu. Buwono Keling dikenal sakti lantaran memiliki ilmu Ponco Sono. Jazadnya baru bisa menyatu dengan bumi, setelah kepala dan tubuhnya dikubur terpisah. Fakta sejarah itu dibuktikan adanya tiga makam yang letaknya dipisahkan dengan sungai. Makam Buwono Keling itu bisa dijumpai di Desa Purwoasri Kecamatan Kebonagung, Desa Sukoharjo, dan Desa Kembang Kecamatan Pacitan," tutur Songgo Samudro pada pewarta.

Terkait nama Gentong, lanjut dia, itu dikarenakan ketika berdagang para saudagar dari Kalingga Selatan membawa perbekalan air yang ditampung disebuah gentong. Selain untuk keperluan minum, juga sebagai wadah untuk berwudlu.

"Meski sering dipakai, namun air yang mereka tampung di sebuah gentong itu tak pernah habis. Entah dari mana asal air itu, yang pasti sebagaimana cerita buku kuno, gentong yang dibawa rombongan Syeh Subakir selalu penuh berisikan air," pungkas dia. (yun/ns)

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Selasa, 26 Maret 2019 21:54 WIB
MADIUN, BANGSAONLINE.com - KAI Daop 7 ajak beberapa wartawan wilayah Madiun, mulai dari wartawan cetak, online, dan televisi, ke tempat bangunan bersejarah Lawang Sewu dan Stasiun Ambarawa, Selasa (26/3). Kegiatan ini dilakukan selama dua hari (25-26...
Jumat, 31 Mei 2019 21:16 WIB
Penulis: Nabrisi Rohid*Tahapan Pemilu 2019 sudah berjalan lebih dari setahun. Pada 21 Mei 2019 dini hari, KPU telah menetapkan pemenang dalam Pemilu tahun ini. Setelah itu, muncullah berbagai gerakan untuk menolak hasil Pemilu. Gerakan tersebut dikem...
Minggu, 09 Juni 2019 23:32 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag53. Waqul li’ibaadii yaquuluu allatii hiya ahsanu inna alsysyaythaana yanzaghu baynahum inna alsysyaythaana kaana lil-insaani ‘aduwwan mubiinaan.Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengu...
Dr. KH. Imam Ghazali Said.
Sabtu, 08 Juni 2019 16:07 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...