Minggu, 21 Oktober 2018 14:04

Tafsir Al-Isra 1: Tahlilan dan Lagu Indonesia Raya

Sabtu, 13 Januari 2018 20:34 WIB
Wartawan: -
Tafsir Al-Isra 1: Tahlilan dan Lagu Indonesia Raya
Timnas Indonesia saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. foto: juara.bolasport.com

Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .  

Subhaana alladzii asraa bi’abdihi laylan mina almasjidi alharaami ilaa almasjidi al-aqshaa alladzii baaraknaa hawlahu linuriyahu min aayaatinaa innahu huwa alssamii’u albashiiru (1).

Berdzikir kepada Allah SWT adalah perintah-Nya. Makin banyak, makin khusyu', makin dianjurkan. Tidak ada cara yang dipatok, silakan berdzikir sendirian atau berduaan, atau jamaah. Juga tiada penunjukan waktu, kapan saja, semakin penuh mengisi hidup dengan berdzikir, bertahlil, beristingfar, bertasbih semakin bagus.

Jadi, acara Tahlilan, Yasinan, dan sebangsanya adalah media yang sangat bermanfaat bagi orang beriman yang awam atau yang sering lupa kepada Tuhan. Lagian dia kurang mampu bercepat-cepat kembali kepada-Nya. Dengan pembacaan kalimah thayyibah bareng-bareng, maka otomatis Allah SWT dihadirkan kembali di hatinya, hal mana sebelumnya Tuhan tidak hadir sama sekali.

Lain dengan orang yang hatinya selalu "ON" kepada Tuhan, maka tahlilan tidak dibutuhkan. Hal itu karena dia sudah mampu in connecting sendiri Tuhan walau tanpa media maupun pendukung. Jiwanya sensitif dan reflek bersentuhan dengan Tuhan.

Memang tidak ada kewajiban hafal lagu Indonesia Raya bagi setiap warga negara Republik Indonesia. Tapi, mereka yang hafal akan lebih "shalih" sebagai warga negara ketimbang yang tidak. Terkait lagu tersebut, penggolongannya begini:

Pertama, mereka yang hafal dan sering melantunkan karena seringnya menghadiri acara resmi kenegaraan dan sebangsanya, seperti pejabat negara. Golongan ini, lagu kebangsaan Indonesia Raya melekat membaur dalam sanubarinya. Jangankan Bupati, kepada desa yang tidak hafal lagu Indonesia Raya pasti "dikutuk" warga.

Kedua, golongan yang jarang melantunkan, paling-paling pada acara Agustusan dan acara lain yang tak terduga. Ini mendingan, masih ada media mengingat-ingat, sehingga tidak lupa sama sekali.

Ketiga, mereka yang pernah hafal, tapi tidak punya acara melantunkan. Maka potensi lupanya lebih besar. Kecil sekali kemungkinan sadar dan mau menghafal sendiri di rumah.

Keempat, mereka yang tidak hafal dan tidak punya acara melantunkan. Mudah-mudahan kita menjadi hamba-Nya yang otomatis bertasbih kepada-Nya. 

Suparto Wijoyo
Rabu, 17 Oktober 2018 11:08 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*DARI Malang menuju Bekasi. Begitulah aksi KPK dalam melakukan gerakan senyap OTT yang melibatkan para bupati kedua daerah itu. Simbul para koruptor kian menjalar dari daerah ke daerah untuk merapatkan barisan sambung-meny...
Sabtu, 20 Oktober 2018 19:42 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .  ‘Asaa rabbukum an yarhamakum wa-in ‘udtum ‘udnaa waja’alnaa jahannama lilkaafiriina hashiiraan (8).Menjadi viral saat ada rombongan umrah menyanyikan lagu Ya Lal Wathan, termasuk yang memb...
Dr. KH. Imam Ghazali Said
Sabtu, 29 September 2018 09:57 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Kamis, 04 Oktober 2018 13:39 WIB
PACITAN, BANGSAONLINE.com - Gua Jenggung, begitulah nama yang diberikan kepada gua yang baru ditemukan di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan.Saat melihat keindahan stalaktit maupun stalagmit di dalam Gua Jenggung, laksana berlibur ke T...