Selasa, 23 Januari 2018 03:05

Tafsir Al-Isra 1: Tahlilan dan Lagu Indonesia Raya

Sabtu, 13 Januari 2018 20:34 WIB
Wartawan: -
Tafsir Al-Isra 1: Tahlilan dan Lagu Indonesia Raya
Timnas Indonesia saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. foto: juara.bolasport.com

Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .  

Subhaana alladzii asraa bi’abdihi laylan mina almasjidi alharaami ilaa almasjidi al-aqshaa alladzii baaraknaa hawlahu linuriyahu min aayaatinaa innahu huwa alssamii’u albashiiru (1).

Berdzikir kepada Allah SWT adalah perintah-Nya. Makin banyak, makin khusyu', makin dianjurkan. Tidak ada cara yang dipatok, silakan berdzikir sendirian atau berduaan, atau jamaah. Juga tiada penunjukan waktu, kapan saja, semakin penuh mengisi hidup dengan berdzikir, bertahlil, beristingfar, bertasbih semakin bagus.

Jadi, acara Tahlilan, Yasinan, dan sebangsanya adalah media yang sangat bermanfaat bagi orang beriman yang awam atau yang sering lupa kepada Tuhan. Lagian dia kurang mampu bercepat-cepat kembali kepada-Nya. Dengan pembacaan kalimah thayyibah bareng-bareng, maka otomatis Allah SWT dihadirkan kembali di hatinya, hal mana sebelumnya Tuhan tidak hadir sama sekali.

Lain dengan orang yang hatinya selalu "ON" kepada Tuhan, maka tahlilan tidak dibutuhkan. Hal itu karena dia sudah mampu in connecting sendiri Tuhan walau tanpa media maupun pendukung. Jiwanya sensitif dan reflek bersentuhan dengan Tuhan.

Memang tidak ada kewajiban hafal lagu Indonesia Raya bagi setiap warga negara Republik Indonesia. Tapi, mereka yang hafal akan lebih "shalih" sebagai warga negara ketimbang yang tidak. Terkait lagu tersebut, penggolongannya begini:

Pertama, mereka yang hafal dan sering melantunkan karena seringnya menghadiri acara resmi kenegaraan dan sebangsanya, seperti pejabat negara. Golongan ini, lagu kebangsaan Indonesia Raya melekat membaur dalam sanubarinya. Jangankan Bupati, kepada desa yang tidak hafal lagu Indonesia Raya pasti "dikutuk" warga.

Kedua, golongan yang jarang melantunkan, paling-paling pada acara Agustusan dan acara lain yang tak terduga. Ini mendingan, masih ada media mengingat-ingat, sehingga tidak lupa sama sekali.

Ketiga, mereka yang pernah hafal, tapi tidak punya acara melantunkan. Maka potensi lupanya lebih besar. Kecil sekali kemungkinan sadar dan mau menghafal sendiri di rumah.

Keempat, mereka yang tidak hafal dan tidak punya acara melantunkan. Mudah-mudahan kita menjadi hamba-Nya yang otomatis bertasbih kepada-Nya. 

Oleh: Suparto Wijoyo*
Rabu, 17 Januari 2018 18:53 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*PILKADA hadir menjadi pesona yang memukaukan pandangan bagi mereka yang gandrung kekuasaan. Hiruk pikuknya dianggap sebagai tembang yang melantunkan merdunya kosa kata. Kampanye digelar guna meneriakkan cita-cita menjemput takdir...
Sabtu, 13 Januari 2018 23:58 WIB
Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . . Subhaana alladzii asraa bi’abdihi laylan mina almasjidi alharaami ilaa almasjidi al-aqshaa alladzii baaraknaa hawlahu linuriyahu min aayaatinaa innahu huwa alssamii’u albashiiru (1)."Subhaana alladzii as...
Oleh: Dr. KH. Imam Ghazali Said., MA
Sabtu, 13 Januari 2018 10:54 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Kamis, 18 Januari 2018 23:31 WIB
LONDON, BANGSAONLINE.com - Nell McAndrew (44), mantan model glamour tetap mempertahankan pola hidup sehat. Dia rutin berlatih dan minum jus. Tak heran, di usianya yang tak muda lagi, tubuhnya masih sintal. Saat di puncak kariernya, wajah dan lekuk ...