Mochtar W Oetomo, pengamat politik Unijoyo, Madura. foto: DIDI ROSADI/ BANGSAONLINE
Kendati gejala perseteruan antar kiai struktural dan kiai kultural NU maupun antar pondok pesantren serta Banom NU mulai terlihat. Namun, Mochtar meyakini polarisasi Pilgub Jatim hanya sebatas pada komunitas nahdliyin semata dan tidak sampai melebar ke wilayah SARA maupun antar wilayah dan daerah.
"Harusnya warga NU menyadari bahwa ini Pilgub Jatim bukan Pilgub NU. Karena itu syahwat para kiai terjun ke politik praktis harus diredam," harap Mochtar.
Cara lain menghindarkan perang Paregreg di Pilgub Jatim, lanjut Mochtar, yakni adanya langkah revolusioner dari parpol untuk mendobrak kebuntuan dan berani mengambil risiko dengan memunculkan poros baru untuk mengusung figur alternatif.
"Kalau hanya ada dua kubu yang sama kuat bertarung, pasti akan terjadi kehancuran. Tapi kalau muncul pihak ketiga bisa jadi akan menjadi solutif sehingga perang bisa dihindari," imbuhnya.
Ia juga berharap Gubernur Jatim Soekarwo yang memiliki multitalent memainkan peran seperti Krisna untuk melapangkan jalan suksesi kepemimpinan dengan baik. Bahkan kalau perlu memunculkan sosok seperti Bre Tumapel dan Bre Lasem yang sengaja tidak diperkenankan ikut dalam Perang Paregreg.
"Sayangnya, sosok yang mirip dengan Bre Tumapel dan Bre Lasem sengaja ada upaya dihambat muncul. Sosok alternatif itu bisa jadi Emil Dardak kalau melihat pemberitaan di Media," kata Mochtar. (mdr/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




