Senin, 26 Agustus 2019 10:46

Berawal dari Memanfaatkan Sapi Betina, Munculah Tradisi Sapi Sonok di Madura

Kamis, 28 September 2017 11:20 WIB
Editor: choirul
Wartawan: Tari
Berawal dari Memanfaatkan Sapi Betina, Munculah Tradisi Sapi Sonok di Madura
Tampilan sapi sonok. foto: Tari/ BANGSAONLINE

BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Pulau Madura memang identik dengan sapi kerap. Dan sapi kerap itu semuanya adalah sapi jantan. Lantas? Bagaimana dengan sapi betina? yang juga diperlakukan sangat istimewa dalam pemeliharaan?

Maka, muncullah tradisi sapi sonok. Yaitu tampilan sepasang sapi betina yang diperlakukan secara “manja” oleh pemiliknya dengan perlakuan-perlakuan khusus yang berbeda dengan sapi pada umumnya.

Sapi–sapi unggul dari berbagai penjuru Pulau Madura itu bersiap mengikuti kontes sapi sonok, ajang silaturahmi para pemilik sapi di Madura yang dikembangkan menjadi kontes sapi sejak tahun 1951.

Sapi sonok ini berbeda dengan kerapan sapi. Kerapan sapi merupakan sepasang sapi jantan yang dinilai dari kecepatan lari, sedangkan sapi sonok merupakan sepasang sapi betina yang dihias cantik dan dimanja. Penilaian tertuju kepada kecantikandan keanggunan sapi. Sapi-sapi ini dirawat agar bulunya bagus, badannya sintal dan bisa berjalan serempak bersama pasangannya seerti pasukan yang sedang baris-berbaris.

Sapi sonok ini tidak dipacu dan ditunggangi. Ia, malah diiringi musik dan tari-tarian saronen.

Seperti layaknya model yang hendak melenggang di catwalk, sapi – sapi itu didandani dengan selempang keemasan di leher serta dada. Di leher sapi dipasang pangonong yaitu kayu perangkai sapi yang diukir indah dengan perpaduan warna merah dan kuning emas.

Penilaian pada kontes Sapi Sonok, disamping keindahan berjalan, juga pakaian yang dikenakan pasangan sapi, juga menentukan keserasian pasangan sapi ketika sampai di garis finish. Kaki depan kedua pasangan Sapi Sonok harus bersamaan naik ke altar yang terbuat dari kayu.

Hal ini menentukan bagus tidaknya sapi dalam kontes. Setelah mencapai garis finish para pemilik sapi langsung menari dengan para sinden yang menari mendampingi pasangan sapi kebanggaan.

Dikatakan Sapi Sonok karena dalam kontes ini, sapi dilepas hingga menuju garis finish, diiringi berjalan di lintasan dan kemudian harus finish dengan masuk, biasanya orang Madura menyebutnya (Nyono’)di bawah sebuah gapura. Di garis finish ini, sapi-sapi dituntut bisa mengangkat kakinya secara bersamaan dan meletakkannya di sebuah kayu melintang. Kayu dibuat lebih tinggidari lintasan. Yang paling anggun dan serempak berjalan serta paling cepat meletakkan kakinya di papan melintang di bawah gapura adalah sapi yang memang sudah sangat terlatih dan secara ekonomis sapi tersebut semakin tinggi nilanya.

Sapi Sonok berawal dari dari kebiasaan petani dalam merawat sapi ternak. Setiap sore sapi – sapi betina ini dimandikan setelah itu ditali pada tonggak kayu dan kemudian berjejer rapi. Sebelum bisa tampil di Kontes Sapi Sonok, sapi – sapi dilatih sejak usia 3 tahun dengan perlakuan khusus dan nutrisi makanan terbaik.

Setiap seminggu sekali sapi – sapi tersebut rutin diberi jamu yang telah dicampur dengan sekitar 15 butir telur. Setiap tahun selalu diadakan Kontes Sapi Sonok dengan mendatangkan sapi – sapi terbaik dari seluruh wilayah Pulau Madura. Sapi juga menjadi identitas Pulau Madura yang sudah sangat terkenal dimana saja. Kontes Sapi Sonok ini hampir bersamaan dengan Kerapan Sapi yang rutin diselenggarakan.

Masyarakat Madura rela merogoh kantongnya hanya demi membeli sepasang ekor sapi betina untuk diikutkan Kontes Sapi Sonok. Kisaran harga Rp100 - 200 juta untuk sepasang ekor Sapi Sonok.

Sedangkan Sapi Sonok yang sudah menjadi juara dalam Kontes Sapi Sonok maka harganya akan menjadi kisaran Rp400 juta untuk sepasang Sapi Sonok. “Karena saya penggemar sapi, tidak berani untuk menjualnya meskipun harganya mahal. Sebab saya, tidak bisa mengambil peranakan dar sapi terbaik yang jadi pemenang dalam kontes,” ujar Zainuddin yang menjadi salah satu penggemar Sapi Sonok asal Desa Waru, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan, Madura. (Tari/UTM)

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Jumat, 23 Agustus 2019 22:22 WIB
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Masyarakat Kabupaten Ngawi dan sekitarnya kini sedang gandrung dengan destinasi wisata baru di Desa Bringin, Kecamatan Bringin, Ngawi. Di mana, salah satu obyek wisata yang dikenal dengan nama 'Jurang Krowak' banyak men...
Minggu, 11 Agustus 2019 17:36 WIB
Oleh: Em Mas’ud AdnanPeta politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Kota Surabaya kembali berubah. Awalnya ada tiga kekuatan kubu politik di internal PDIP Kota Surabaya. Kubu Wihsnu Sakti Buana (wakil wali kota Surabaya), Bambang...
Senin, 19 Agustus 2019 01:09 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag58. wa-in min qaryatin illaa nahnu muhlikuuhaa qabla yawmi alqiyaamati aw mu’adzdzibuuhaa ‘adzaaban syadiidan kaana dzaalika fii alkitaabi masthuuraanDan tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduk...
Sabtu, 17 Agustus 2019 11:29 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...