Sementara itu, Ketua umum Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas menuturkan, kegiatan ini diadakan tidak lain karena kondisi di berbagai Negara masih terjadi persinggungan antara umat muslim dan non-muslim.
“Kita akan membahas persoalan negara-bangsa yang terjadi di berbagai negara berkaitan dengan interaksi muslim dan non-muslim. Di samping itu, pergerakan golongan-golongan yang berpotensi mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara juga akan menjadi salah satu poin pembahasan dalam forum ini,” ujarnya.
Menurut Gus Yaqut, untuk mendapatkan panduan keagamaan atas berbagai persoalan tersebut, sumber rujukan paling otoritatif yang secara luas masih diterima umat islam sebagai standart ottodoksi adalah khasanah pemikiran klasik, terutama fiqih (turats).
“Untuk itulah melalui halaqah ini kami ingin menawarkan gagasan (road map) untuk ditawarkan kepada negara-negara lain. Karena kita tahu beberapa Negara seperti Syiria, Iraq, dan Iran masih terjadi pergolakan. Kami ingin islam rahmatan lil alamin tidak hanya sekadar ada di wacana, tapi juga bisa menjadi solusi yang sebenarnya untuk perdamaian dunia,” jelasnya.
Lebih lanjut Gus Yaqut memaparkan, hasil dari halaqah ini akan disampaikan ke Negara-negara di dunia. “Ya, hasilnya ini akan kami sebarkan ke penjuru dunia. Kami akan tour (keliling) dunia untuk menawarkan gagasan hasil halaqah ini,” tandas Gus Yaqut.
Hingga berita ini diturunkan, sesi pertama halaqah masih berlangsung dengan pembahasan “gagasan-gagasan problematic dalam khazanah klasik mengenai politik, system hukum dan hubungan muslim non-muslim,”. Pembicara dalam sesi ini yakni KH Yahya Cholil Staquf, Katib Am PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Kabir Helminski (Amerika), dan Yazid Bustomi (PP GP Ansor). (rom)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




