Kader dan pengurus PAN Jatim yang tergabung dalam Gerakan Penyelamat Partai (GPP) saat memberi keterangan pers di Surabaya, Senin (1/5).
"Tidak cuma janjinya yang tidak direalisasikan, bahkan Masfuk menyapu bersih orang yang dinggap dekat Suyoto dan Kuswiyanto hingga tingkat daerah. Cara kepemimpinan seperti itu keliru, karena tidak menggandeng seluruh kader. Langkah itu bukan malah membesarkan partai, tapi sebaliknya, merusak PAN," kritik Wakil Ketua DPW PAN Jatim era Kang Yoto.
Sementara itu Djauzi Turseo, mantan Ketua DPD PAN Kabupaten Trenggalek, menuturkan, struktur baru harusnya berjuang untuk kepentingan rakyat, bukan berjuang untuk kepentingan sendiri atau kelompok. Apalagi dengan cara-cara yang tidak konstitusional, itu menunjukkan sistem politik yang kotor dan jahat.
"Lihat saja posisi Fraksi PAN di DPRD Jatim, pasca reposisi kemarin, struktur fraksi hanya ada dua yakni ketua dan Sekertaris. Sedangkan Wakil Ketua dan Bendahara ditiadakan, dan itu baru kali ini terjadi. Apakah itu bukan cara politik yang kotor dan menunjukkan fraksi dikuasai orang-orang tertentu saja," imbuh Djauzi.
Djauzi mengingatkan, Gerbong Penyelamat Partai yang di dalamnya terdiri dari mantan struktur PAN, anggota MPP (Majelis Pertimbangan Partai), deklator PAN dan kader itu bertekad akan melawan kepemimpinan Masfuk dan gerbongnya dengan meminta struktur DPW PAN Jatim ditetapkan sesuai hasil muswil yang dimenangkan Kuswiyanto. Tahapan pertama, tuntutan akan disampaikan ke Mahkamah Partai. Jika hasilnya tidak sesuai, maka akan dilanjutkan ke PTUN.
"Kita memiliki saksi dan bukti lengkap pelaksanaan Muswil ke-4 di Kediri berjalan sesuai aturan, tapi terdapat oknum dari kubu Masfuk yang membuat kisruh pelaksanaan Muswil agar terjadi deadlock. Dengan begitu, hasil pemilihan yang memenangkan Kuswiyanto dibatalkan. Skenario itu akhirnya mengantarkan Masfuk menjadi Ketua DPW lewat penunjukkan DPP,” pungkasnya. (mdr/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




