ilustrasi
“Informasinya sesak nafas dan korban sempat merasa matanya bermasalah. Pengelihatannya menjadi lebih gelap,” tutur warga. Meski merasa sakit ketiganya tidak lantas berobat. Keluarga juga segan karena tidak memiliki biaya.
Korban pertama adalah Heri. Pemuda putus sekolah berusia 18 tahun itu meregang nyawa sekitar pukul 05.00 di rumah. Menurut keterangan warga dia mengeluh sakit di bagian dada.
Korban selanjutnya Suliyanto. Dia sempat dibawa ke Puskesmas Jabon oleh keluarga. Namun, penanganan medis yang dilakukan sepertinya terlambat. Sulung dari tujuh bersaudara itu menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelah mendapat perawatan di Puskesmas.
Sekitar pukul 10.00, giliran Mukti yang meninggal dunia. Sebelumnya, bapak dua anak itu juga terbaring lemas seperti dua temannya usai menggelar pesta miras terakhir.
Kapolsek Jabon AKP Subadri menyatakan, ketiga korban langsung dimakamkan keluarganya setelah meninggal dunia. Mereka tidak melaporkan kejadian itu ke polisi karena merasa sudah ikhlas dengan kepergian korban. “Tidak ada laporan dari keluarga, kami daru dapat informasi saat para korban sudah dimakamkan,” ujar dia.
Subadri mengungkapkan, pihaknya akan tetap menyelidiki perkara itu. "Meski keluarga sudah merelakan, polisi harus tetap menjalankan prosedur. Dari pihak keluarga menolak visum dan otopsi dengan memberikan surat pernyataan. Meski begitu, kami tetap menyelidiki perkara dengan meminta keterangan sejumlah saksi," jelas dia.
Mantan Kapolsek Sukodono itu menambahkan, kejadian itu menjadi warning polisi untuk semakin giat memberantas peredaran miras. Dia mengaku akan tegas kepada setiap penjual miras yang masih nekat berjualan. “Lokasi penjualan miras sudah kami petakan. Semuanya bakal kami libas habis,” jlentreh dia. (cat/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




