Sabtu, 19 Oktober 2019 07:28

Buku Pemikiran Pendidikan KH. Hasyim Asy'ari Dibedah di STIT-UW Jombang

Minggu, 22 Mei 2016 21:46 WIB
Buku Pemikiran Pendidikan KH. Hasyim Asy
Mukani saat bedah buku di kampus STIT Al-Urwatul Wutsqo Bulurejo, Kabupaten Jombang, Minggu (22/5).

JOMBANG, BANGSAONLINE.com – Untuk mempelajari pemikiran KH. Hasyim Asy'ari tentang pendidikan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Urwatul Wutsqa (STIT-UW) Jombang membedah buku berjudul "Berguru Ke Sang Kiai, Pemikiran Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari", Minggu (22/05). Hadir sebagai narasumber adalah penulis buku tersebut Mukani, anggota dewan pendidikan Kabupaten Jombang Afairur Ramadlan dan Puket 1 STIT-UW Chumaidah.

Saat memaparkan materi, penulis buku dengan gamblang menjelaskan berbagai temuan penelitiannya tentang pemikiran pendidikan pendiri Nahdlatul Ulama tersebut. “Karena sebenarnya buku yang baru terbit tahun ini, ini adalah riset dari tesis saya tahun 2005 silam di Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya,” kata Mukani.

Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk ini juga mengungkapkan bahwa berbagai pemikiran pendidikan yang digagas Kiai Hasyim masih sangat relevan untuk diaplikasikan pada dunia modern seperti sekarang. “Meski langkah teknis operasionalnya perlu dijabarkan lagi,” ucapnya.

Untuk itu, lanjutnya, pemikiran yang dibahas di buku ini menjadi sebuah referensi penting bagi para pengelola, pengambil kebijakan dan pelaksana dunia pendidikan di Indonesia. “Terlebih bagi organisasi sebesar NU, buku ini hadir sebagai galian cerdas tentang konsep pendidikan yang sudah digagas hadratussyaikh Mbah Hasyim puluhan tahun silam,” paparnya.

Sikap jujur dari pendidik sebagai contoh. Kiai Hasyim sudah mendorong agar seorang pendidik melaksanakan profesinya mendidik anak bangsa secara jujur. Ini mengingat terkait erat dengan keberkahan ilmu yang diperoleh peserta didik.

“Namun apa yang terjadi dengan dunia pendidikan kita sekarang, tidak hanya pada pendidikan dasar dan menengah, di perguruan tinggi pun praktek-praktek tidak terpuji dilakukan oleh oknum, baik bernama guru ataupun dosen,” ujarnya.

Pada level peserta didik, fenomena yang terjadi sekarang juga sudah jauh dari nilai-nilai karakter yang digariskan Kiai Hasyim. “Meski banyak yang baik, peserta didik saat ini tidak ubahnya mesin-mesin produksi yang akan berjalan untuk mencari ijasah, bukan kompetensi,” katanya.

Kondisi ini tidak jauh beda pada aspek kurikulum. Kiai Hasyim sudah menegaskan bahwa pendidikan hendak membentuk generasi yang baik dan cerdas. “Namun, seolah kurikulum yang beredar di pasaran sekarang belum mampu menyentuh kedua substansi ini, masih berkutat pada kulitnya saja,” ujarnya. Sehingga, lanjutnya, dunia pendidikan Indonesia masih berjalan di tempat. Masih ketinggalan dengan negara-negara tetangga.

Mukani juga mengkritik budaya literasi yang masih lemah. “Orang Indonesia dalam sehari itu menulis hanya satu persen dari jumlah waktunya, sisanya lebih kepada budaya tutur,” ungkapnya.

Padahal Kiai Hasyim sudah memberi contoh konkret dengan banyak menulis. “Selain 23 karya tulis yang dijadikan sumber primer dalam buku ini, masih ada beberapa karya Kiai Hasyim yang sekarang masih proses ketik ulang untuk segera diterbitkan,“ paparnya.

“Sebenarnya masih banyak hal yang perlu dibenahi dengan dunia pendidikan kita, dan itu akan dimulai dari diri kita sendiri untuk memulai revolusi mental agar mutu generasi bangsa ini bisa meningkat,” imbuhnya.

“Kita patut belajar banyak kepada Kiai Hasyim, karena di bawah tekanan bangsa kolonial, kakek Gus Dur ini mampu meninggalkan banyak warisan terpendam bagi kemajuan pendidikan,” ucapnya.

Kiai Hasyim, lanjutnya, sudah memikirkan pentingnya presensi, home visiting, reward punishment, ujian remidi, kualifikasi guru hingga lingkungan pendidikan.

Saat memberikan paparan, Chumaidah lebih banyak mengapresiasi penerbitan buku ini. “Masih sangat jarang ada penulis yang menggali konsep murni dari tokoh Indonesia asli, sehingga buku Mukani ini patut diapresiasi,” ujarnya.

Kandidat doktor UIN Sunan Ampel Surabaya ini menggarisbawahi komitmen Kiai Hasyim dalam memajukan dunia pendidikan. “Setiap Jumat, Kiai Hasyim keliling ke desa-desa sekitar untuk mendorong tokoh agamanya agar mendirikan pondok dan masjid,” imbuhnya. Lahkah Kiai Hasyim ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa rais akbar NU ini terlalu modern untuk jamannya saat itu.

Sementara Afairur Ramadlan lebih banyak menyoroti tentang berbagai fenomena yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Mulai kenakalan remaja, pergaulan bebas, minuman keras hingga perilaku menyimpang dari para oknum pendidik. “Yang ditulis dalam buku ini patut menjadi referensi bagi seorang calon pendidik, baik guru ataupun dosen, terutama dalam masalah akhlak dan adab,” imbuhnya.

Mantan ketua PC IPNU Jombang ini mengaku miris karena akhir-akhir ini banyak ditemukan oknum guru yang bermental calo. “Bahkan sudah sampai bermental buruh, karena hanya mengajar dan memperoleh honor, tidak peduli dengan perkembangan anak didiknya,” ujarnya.

Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jombang ini mendorong bahwa berbagai praktek kotor dalam dunia pendidikan harus segera diakhiri. “Sudah saatnya guru tidak hanya mengajar secara fisik, namun juga mendoakan muridnya di malam hari,” pintanya.

“Buku yang sudah ditulis oleh Mukani ini bisa diusulkan ke dinas pendidikan dan pemerintah daerah untuk dijadikan referensi saat menggelar berbagai pelatihan pendidikan karakter, agar para guru tidak bermental seperti buruh lagi,” pintanya.

Temuan penelitian dalam buku ini, lanjut Ramadlan, masih sangat relevan untuk digunakan dalam memajukan dunia pendidikan masa sekarang. “Apalagi kenakalan remaja di sekolah saat ini cenderung meningkat, buku ini bisa dijadikan pedoman untuk membendung itu,” ujarnya.

Pria yang juga wakil ketua PC Ansor Jombang ini menambahkan bahwa kenakalan sekarang sudah merembet di kalangan dewasa. Banyak kasus perceraian semakin meningkat. Kasus perselingkuhan juga sering terjadi. “Karena adanya perubahan perilaku, seringkali kasus-kasus itu juga melibatkan oknum guru,” bebernya.

Dalam dunia literasi, Ramadlan juga menyayangkan masih rendahnya di kalangan pendidik. “Pengembangan keilmuan di dunia guru masih rendah, ini bisa dibuktikan karena guru sulit untuk merangkum dan menulis materi secara mandiri,” ucapnya.

Padahal, menurut Kiai Hasyim, budaya literasi mutlak diperlukan bagi seorang pendidik. Minimal menjadi materi pegangan bagi para muridnya. “Inilah visi jauh ke depan yang diusung tokoh besar asli Jombang bernama Kiai Hasyim,“ pungkasnya. (jbg1/dio/rev)

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Minggu, 13 Oktober 2019 23:15 WIB
BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur memiliki wisata unik berbasis minyak dan gas bumi (Migas), tepatnya di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro.Di desa ini terdapat ratusan sumur minyak tua peninggal...
Rabu, 16 Oktober 2019 11:21 WIB
Oleh: Khariri Makmun*Fenomena semangat keberagamaan di tanah air semakin meningkat, hal itu ditandai dengan maraknya gelombang hijrah baik di kalangan artis, publik figur, maupun orang awam. Masifnya dakwah di media sosial disambut baik oleh netizen ...
Minggu, 06 Oktober 2019 22:56 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*70. Walaqad karramnaa banii aadama wahamalnaahum fii albarri waalbahri warazaqnaahum mina alththhayyibaati wafadhdhalnaahum ‘alaa katsiirin mimman khalaqnaa tafdhiilaan.Dan sungguh, Kami telah memuliakan ...
Minggu, 22 September 2019 14:08 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...