Aung San Suu Kyi diwawancarai oleh Mishal Husain untuk program Radio 4's Today. foto: bbc
Namun publik berharap kasus Suu Kyi ini menjadi pembelajaran, yang mampu menciderai kredibilitas nobel perdamaian. Seperti pelajaran yang dulu diberikan sebagian umat Islam memprotes nobel perdamaian kepada Shimon Perez.
Selain itu, ini juga menjadi pengingat bahwa nobel perdamaian ternyata tidak bisa menjadi ukuran standar pencapaian perdamaian. "Karena bukan rahasia umum pemberian nobel bisa saja ada unsur politis juga," kata dia.
Masalahnya, lanjutnya, saat ini belum ada lembaga yang bisa diakui menandingi penghargaan setingkat nobel itu. Tapi setidaknya kasus Suu Kyi ini bisa menjadi catatan kembali bagi lembaga nobel perdamaian bahwa tidak selamana penilaian nobel bisa diterima oleh masyarakat dunia, seperti kasus Shimon Perez dan Suu Kyi.
Komentar juga keluar dari Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin yang ikut menandatangani petisi online mendesak Komite Nobel untuk menarik Nobel Perdamaian yang diberikan kepada Aung San Suu Kyi.
"Sangat wajar karena perilaku dan sikap yang ditampilkan Aung Sang Suu Kyi membatalkan kriteria penerimaan Nobel perdamaian. Seyogyanya Komite Nobel tanpa diminta oleh pihak manapun seharusnya langsung membatalkannya," ujarnya.
Pria yang menjabat sebagai President Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) itu mengatakan, seandainya Komite Nobel enggan menarik Nobel Perdamaian dari Suu Kyi, maka harus terus disuarakan oleh masyarakat dunia bahwa dia bukanlah tokoh perdamaian.
"Kalau Suu Kyi masih bersikap seperti ini, saya sanksi proses perdamaian Myanmar akan bisa selesai dan krisis pun akan terus terjadi, termasuk yang menyeret kelompok agama di Myanmar yang bersifat keagamaan walaupun motif dasarnya bukan agama," katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Suu Kyi mengeluarkan pernyataan 'tak ada yang memberi tahu bahwa saya akan diwawancarai oleh seorang Muslim' usai diwawancara oleh presenter BBC Today Mishal Husain pada 2013.
Kekesalan Suu Kyi disebabkan pertanyaan yang diajukan Husain mengenai penderitaan yang dialami oleh umat muslim di Myanmar. Memang, kejadian tersebut sudah terjadi tiga tahun lalu.
Namun hal tersebut baru terkuak belakangan ini berkat buku biografi berjudul The Lady and The Generals – Aung San Suu Kyi and Burma’s Strunggle for Freedom yang ditulis oleh jurnalis The Independen Peter Popham. (mer/rol/lan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




