DARI KIRI: Zamal Nasution, Ph.D, Abdullah Firmansyah dan M Mas'ud Adnan. Foto: bangsaonline
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Inilah kesempatan besar bagi santri atau siswa yang ingin melanjutkan belajar di luar negeri.
“Beasiswa full,” kata Zamal Nasution, Ph.D, Ketua Alumni Mahidol University Thailand di Indonesia, dalam Podcast BANGSAONLINE yang kini sudah ditonton ribuan orang.
BACA JUGA:
- Wali Kota Batu Nurochman Apresiasi CSR Bank Jatim untuk Beasiswa 1000 Sarjana
- ITS Beri Beasiswa kepada 34 Mahasiswa Terdampak Banjir Sumatera
- Serahkan Beasiswa dan Penghargaan Guru Favorit, Bupati Mojokerto Tegaskan Komitmen Sektor Pendidikan
- Universitas Al Hikmah Indonesia Tuban Luncurkan Program Satu Desa Dua Sarjana
Menurut Zamal, jumlah calon mahasiswa yang akan diterima juga tak terbatas. Bahkan sebanyak-banyaknya.
“Unlimited,” kata alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Mahidol University Thailand itu lagi.
Kok bisa? Karena, kata Zamal, perguruan tinggi di Thailand tiap tahun kekurangan mahasiswa gara-gara anak muda Thailand enggan menikah. Bahkan, tutur Zamal, 90 % dosen perempuan di Thailand tak mau menikah.
“Kalau menikah mereka gak mau punya anak,” kata Zamal.
Konsekuensinya, negara Thailand defisit anak muda atau generasi muda. Perguruan tinggi pun kekurangan mahasiswa.
Yang lebih menguntungkan lagi, para pimpinan dan pengelola perguruan tinggi di Thailand sangat suka mahasiswa Indonesia.
“Kata mereka mahasiswa Indonesia itu loyal dan pekerja keras,” tegas Zamal.
Selain Thailand, negara yang terbuka lebar bagi santri atau siswa Indonesia adalah Turki. Bisa lewat jalur beasiswa atau beaya sendiri. Tapi kalau toh biaya sendiri kuliah di Turki masih terjangkau. Bahkan terbilang sangat murah.
“Kalau jurrusan sosiologi sekitar Rp 3 juta per semester (enam bulan),” kata Abdullah Firmansyah, pengajar Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah yang berpusat di Intanbul Turki.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




